Friday, July 24, 2009

PRESIDEN PALING SENSITIF SEPANJANG MASA KEPALA NEGARA RI

Mohon maaf bagi pengguna facebook, berita blog saya terkoneksi otomatis ke facebook. Namun jika mau membaca berita ini klik ke blok saya di : http://misriadi.blogspot.com/

Jakarta - Pidato Presiden SBY menanggapi ledakan bom JW Marriott dan Ritz Carlton dinilai sebagai upaya mengkriminalisasikan para pejuang keadilan Pilpres. Mereka yang memperjuangkan agar pilpres berlangsung jujur dan adil seolah-olah dianggap sebagai penjahat yang antinegara dan antidemokrasi. "Penting untuk diketahui presiden bahwa pernyataan beliau terasa sangat memukul kelompok masyarakat yang selama ini aktif melakukan advokasi pelanggaran dan kecurangan pemilu," kata Direktur Lingkar Madani, Ray Ragkuti dalam jumpa pers di Bawaslu, Sabtu (21/7).

Ray Rangkuti menilai, SBY mengarahkan opini publik agar beranggapan bahwa pihak-pihak yang tidak puas terhadap Pilpres adalah pelaku kekerasan yang antidemokrasi, antinegara, dan antipemerintahan. Orang-orang itu berbahaya karena ingin membuat Indonesia serupa Iran yang mengalami kekacauan pascapilpres.

Tindakan SBY ini, menurut Ray, ada kemiripan dengan apa yang dilakukan Soeharto ketika membangun Orde Baru. Saat itu Soeharto juga mengkriminalisasikan para pengkritik pemerintah sebagai pihak yang antipemerintahan dan antinegara. Dan seperti diketahui, Orde Baru kemudian mengarah pada otoritarianisme. "Ada indikasi (sekarang) juga mengarah ke situ," papar mantan Direktur Eksekutif Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP) ini.

Padahal, lanjut Ray, pihak-pihak yang mengadvokasi pelanggaran pemilu itu berjuang demi menegakkan demokrasi. Sebab, setiap pelanggaran pemilu berarti menciderai proses demokrasi. Dan pembiaran kecurangan dan pelanggaran pemilu merupakan awal bagi upaya penggerogotan demokrasi Indonesia. Oleh karena itu, kecurangan dan pelanggaran ini tidak boleh didiamkan. "Sebab penting untuk diingat bahwa warisan yang paling indah dan amat sangat berguna bagi anak cucu bangsa kita adalah demokrasi," serunya.

SBY Ditipu Bawahannya
Foto yang dipublikasikan Presiden SBY dengan gambar dirinya sebagai sasaran tembak merupakan foto lawas. Foto yang ditunjukkan dalam keterangan pers terkait pengeboman Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton itu pernah ditunjukkan dalam rapat dengan Komisi I DPR RI sekitar tahun 2004. "Pak SBY ditipu bawahan-bawahannya, gambar-gambar itu pernah dipublikasikan di Komisi I. Itu sudah 5 tahun yang lalu di Komisi I," ungkap mantan anggota Komisi I DPR Permadi.

Namun, Permadi yang menjadi anggota Komisi I DPR pada saat 2004 itu belum sempat menjelaskan siapa mitra Komisi bidang pertahanan, intelijen dan TNI ini yang pernah membeberkan foto tersebut. Sementara mengenai pernyataan SBY yang secara implisit menuding Prabowo Subianto, Permadi menyerahkan sepenuhnya kepada Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra tersebut. "Terserah Mas Prabowo. Itu diselesaikan baiknya seperti yang Mas Prabowo katakan, yaitu sowan (ke SBY)," kata mantan tokoh senior PDIP yang kini bergabung dengan Partai Gerindra.

Sebagaimana diketahui, dalam keterangan pers 17 Juli lalu, Presiden SBY membeberkan beberapa poto yang ia dapat dari intelijen. Foto tersebut di antaranya foto teroris yang sedang menembak sebuah target yang tidak tergambar jelas, dan sebuah foto gambar SBY dari jarak dekat dengan lobang di pipi sebelah kanan. Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri menjelaskan 'penembak' SBY sudah ditangkap di Kalimantan Timur pada Mei 2009.

Mega 'Lebih Jantan' Dibanding SBY
Sementara itu, pengamat kebijakan publik Gatot Swandito mengungkapkan dalam emailnya, bahwa Megawati Soekarnoputri ternyata lebih ‘jantan’ daripada Susilo bambang Yudhoyono (SBY). Paslanya, pada tahun 2003 beredar kabar bahwa Megawati Soekarnoputri yang saat itu menjabat sebagai presiden RI akan dibunuh. Isu tersebut demikian menguat jika dikaitkan dengan peledakan bom di beberapa daerah di Indonesia. Sebagai orang yang terancam Mega tidak pernah mengomentari isu tersebut, apalagi sebagai presiden, karena akan menunjukkan kelemahannya sebagai pemimpin.

Padahal, bisa saja dia mengungkapkan ancaman tersebut, dengan tujuan menarik simpati rakyat untuk mendukungnya pada Pilpres 2004. Hal yang sangat berbeda justru ditunjukkan oleh SBY. Tahun ini saja sudah tiga kali ia mengeluh karena terancam.

Pertama, lewat isu ABS-nya. Kedua pengakuan bahwa sering mengalami serangan sihir. Terakhr pengakuan ia ia akan dibunuh dengan menunjukkan foto-foto yang berkualitas tinggi dan diambil dengan jarak dekat ia mengadu pada dunia tentang nyawanya yang terancam. “Hal itu menunjukan lemahnya jiwa ksatria yang dimilikinya. Dari reaksi terhadap ancaman terbukti Megawati lebih jantan dari jenderal bintang empat Dr Susilo Bambang Yudhoyono,” ungkapnya.

Kok Bisa Lolos dari Metal Detector?
Hingga kini masih menjadi tanda tanya besar mengapa bom atau bahan peledak yang dibawa pelaku peledakan bom bisa lolos di Hotel JW Marriott Jakarta. Padahal, pemeriksaan sudah dilakukan secara bertahap, baik di luar hotel maupun ketika masuk hotel.

Video CCTV yang ditayangkan MetroTV memperlihatkan proses pemeriksaan berlapis kepada pelaku bom. Mobil Taksi Pusaka Nuri yang ditumpangi pelaku bom diperiksa secara ketat saat tiba di mulut gerbang hotel itu sekitar pukul 15.00 WIB tanggal 15 Juli 2009 lalu.

Pemeriksaan dengan metal detector dilakukan hingga bawah bagian body mobil. Semua pintu taksi itu juga dibuka untuk diperiksa petugas sekuriti berseragam biru tua. Pemeriksaan selesai, tidak ada benda yang mencurigakan, sehingga taksi diperbolehkan masuk ke halaman lobi hotel.

Turun dari mobil, pelaku diperiksa kembali di pintu metal detector sebelum masuk lobby hotel. Begitu juga barang-barangnya dengan dicek dengan metal detector sebelum dinaikkan ke troli. Setelah lolos dari pemeriksaan itu, pelaku menuju lobby sambil membawa barang bawaannya. (ira/jpc/ika/dtc)

No comments:

PUSTAKA KITA

> MISRIADI BLOG
> OKEZONE
> GAME ONLINE FULLY
> DETIK
> BLOG TARGET
> VIVA NEWS
> DESIGN BLOG
> BIRU BLOG
> LOGO BLOG
> BLOG BASIS BAHASA
> HTML BLOG
> SENIOR BLOG PANUTAN
free counters



website design