Monday, July 27, 2009

PRIORITAS 100 HARI KERJA SBY-BUDIONO

BACA BERITA INI DI BLOG SAYA: http://misriadi.blogspot.com/
Kemarin, Sabtu (25-07-2009) KPU menetapkan pasangan SBY-Boediono sebagai pemenang pemilihan presiden RI 2009-2014 dengan meraih 73 juta suara lebih atau 60% suara sah. Dengan demikian mereka menang cukup dengan satu putaran. Apa langkah selanjutnya? Tentu pasangan terpilih akan menyusun priorotas kerja untuk seratus hari pertama. Berikut copy paste dari inilah.com, karya Ahmad Munjin tentang hal tersebut.

INILAH.COM, Jakarta – Pemerintahan lima tahun mendatang memang bukan barang baru karena capres terpilih adalah incumbent. Namun untuk 100 hari pertama SBY-Boediono diharapkan menurunkan suku bunga pinjaman ke level 10% sebagai target utamanya.

Ketua Komite Tetap Perdagangan Dalam Negeri Kadin Bambang Soesatyo, mengatakan dalam 100 hari pertama SBY-Boediono harus bekerja ekstra cepat menstimulus perekonomian dalam negeri. Menurutnya, target pertama adalah menurunkan suku bunga pinjaman bank dari 13-14% sekarang ini menjadi 10%.

Untuk itu, Bambang menyarankan pemerintah mengambil dua langkah penting. Salah satunya segera berkoordinasi dengan Gubernur Bank Indonesia untuk merumuskan langkah bersama. “Selain itu, pemerintah wajib memanfaatkan instrumen fiskal untuk menstimulus penurunan suku bunga,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Minggu (26/7).

Selain suku bunga, pemerintah juga harus merumuskan program revitalisasi ketahanan ekonomi dengan fokus pada pemberdayaan usaha menengah, kecil dan mikro (UMKM). “UMKM yang tangguh bisa memulihkan ketahanan ekonomi nasional,” ujarnya.

Michael Watkins, seorang eksekutif percepatan transisi korporasi dalam bukunya, 90 Hari Pertama: Strategi Penting untuk Berhasil bagi Semua Pemimpin di Semua Level, mematok waktu 90 hari sebagai masa kritis transisi kepemimpinan. Memang! Itu karena Watkins berbicara tentang transisi kepemimpinan korporasi.

Menurut Watkins, transisi adalah masa-masa kritis di mana perbedaan sekecil apa pun dalam tindakan bisa berdampak besar akibatnya. Pemimpin, di level mana pun, berada dalam posisi paling rentan pada beberapa bulan pertama di posisi baru karena ia kurang mengetahui secara rinci tantangan yang dihadapi dan apa yang dibutuhkan untuk mengatasi tantangan itu.

Kegagalan menciptakan momentum pada bulan-bulan awal, menurut Watkins, jelas akan membentangkan pertarungan berat pada masa jabatan selanjutnya. Membangun kredibilitas dan meraih sejumlah kemenangan awal akan memberikan titik pijak yang kokoh bagi keberhasilan jangka panjang.

Tentu saja, semua itu tidak berlaku bagi SBY-Boediono. SBY adalah presiden incumbent yang sudah paham seluk-beluk pemerintahan. SBY tinggal melanjutkan dan memodifikasi strateginya. Modifikasi dibutuhkan karena tantangan mengelola pemerintahan lima tahun mendatang jelas berbeda.

Begitu juga Boediono yang telah berpengalaman sebagai Kepala Bappenas, Menteri Keuangan, Menko Perekonomian, dan Gubernur BI. Pengalaman tentu menjadi modal dasar yang baik bagi Boediono untuk membuktikan dirinya lebih baik dari mantan pendamping SBY, yakni Jusuf Kalla.

Bukan mengecilkan kemampuan Boediono, tetapi survei maupun perbincangan makan siang di berbagai kalangan menyatakan pasangan SBY-JK adalah yang terbaik untuk masa lima tahun mendatang.

Bambang Soesatyo kembali mengatakan, pemerintahan lima tahun mendatang bukan pemerintahan baru. Pasalnya capres terpilih adalah incumbent. “Hanya Wapresnya yang baru, serta figur menteri yang mungkin banyak berbeda,” ujarnya.

Karena bukan barang baru, terlalu berlebihan jika publik mengharapkan perubahan signifikan pada style kepemimpinan dan karakter kebijakan pemerintah sepanjang lima tahun periode kedua kepresidenan SBY.

“Kita semua harus jujur dan mengakui telah merasakan gaya kepemimpinan SBY dalam lima tahun terakhir. Silahkan membuat penilaian sendiri-sendiri,” tukas Bambang yang juga Ketua Asosiasi Rekanan Pengadaan Barang dan Distributor Indonesia (Ardin) itu.

Menurutnya, banyak orang mengatakan pemerintahan periode 2004-2009 diuntungkan oleh progresivitas Wapres Yusuf Kalla. “Berkat kesigapan dan keberanian Kalla, efektivitas pemerintahan terjaga,” timpalnya.

Dengan demikian, tantangan terbesar pemerintah periode 2009-2014 adalah menjaga efektivitas pemerintahan. Bahkan, kalau bisa, lebih kuat dibanding periode sebelumnya.

Selain itu, memperbaiki kesejahteraan rakyat juga masih menjadi PR utama.

“Potret derajat kesejahteraan rakyat kita bisa dipahami dengan cara menyimak isu tentang pengangguran, rumah tangga miskin (RTM) dan perkembangan konsumsi rumah tangga,” imbuhnya. Meningkatnya pengangguran sejalan dengan turunnya pertumbuhan ekonomi dari kisaran 6% tahun-tahun sebelumnya, menjadi sedikit di atas 4%.

Organisasi Buruh Internasional (ILO) memprediksi pengangguran di Indonesia bertambah 170 ribu hingga 650 ribu orang pada 2009. Ada juga yang memperkirakan jumlah penganggur bertambah sekitar 2 juta orang sepanjang 2009.

“Pokoknya, angka pengangguran tahun ini bakal mencapai 8,5-9% dari total angkatan kerja,” tandasnya. Akibatnya daya beli menjadi anjlok, sehingga konsumsi rumah tangga tahun ini hanya 4,1%.

Sementara itu, jumlah rumah tangga miskin masih tinggi, sekitar 17,1 juta keluarga. Tiga indikator ini menggambarkan ketidaknyamanan hidup puluhan juta warga. “Gabungan masalah ini jelas-jelas menjadi bom waktu,” pungkasnya. [E1]

terkait

No comments:

PUSTAKA KITA

> MISRIADI BLOG
> OKEZONE
> GAME ONLINE FULLY
> DETIK
> BLOG TARGET
> VIVA NEWS
> DESIGN BLOG
> BIRU BLOG
> LOGO BLOG
> BLOG BASIS BAHASA
> HTML BLOG
> SENIOR BLOG PANUTAN
free counters



website design