Wednesday, May 27, 2009

MODULASI

catatatan kuliah " sistem komunikasi kelautan"

----------------------------------------------------------------

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Pengertian Modulasi

Modulasi adalah proses perubahan (varying) suatu gelombang periodik sehingga menjadikan suatu sinyal mampu membawa suatu informasi. Dengan proses modulasi, suatu informasi (biasanya berfrekwensi rendah) bisa dimasukkan ke dalam suatu gelombang pembawa, biasanya berupa gelombang sinus berfrekwensi tinggi. Terdapat tiga parameter kunci pada suatu gelombang sinusiuodal yaitu : amplitudo, fase dan frekuensi. Ketiga parameter tersebut dapat dimodifikasi sesuai dengan sinyal informasi (berfrekwensi rendah) untuk membentuk sinyal yang termodulasi.

Peralatan untuk melaksanakan proses modulasi disebut modulator, sedangkan peralatan untuk memperoleh informasi informasi awal (kebalikan dari dari proses modulasi) disebut demodulator dan peralatan yang melaksanakan kedua proses tersebut disebut modem.

1.2 Jenis Modulasi

Informasi yang dikirim bisa berupa data analog maupun digital sehingga terdapat dua jenis modulasi yaitu

  • modulasi analaog
  • modulasi digital

1.2.1 Modulasi Analog

Dalam modulasi analog, proses modulasi merupakan respon atas informasi sinyal analog.

Teknik umum yang dipakai dalam modulasi analog :

  • Modulasi berdasarkan sudut
    • Modulasi Fase (Phase Modulation - PM)
    • Modulasi Frekuensi (Frequency Modulatio - FM)
  • Modulasi Amplitudo (Amplitudo Modulation - AM)
    • Double-sideband modulation with unsuppressed carrier (used on the radio AM band)
    • Double-sideband suppressed-carrier transmission (DSB-SC)
    • Double-sideband reduced carrier transmission (DSB-RC)
    • Single-sideband modulation (SSB, or SSB-AM), very similar to single-sideband suppressed carrier modulation (SSB-SC)
    • Vestigial-sideband modulation (VSB, or VSB-AM)
    • Quadrature amplitude modulation (QAM)

1.2.2 Modulasi Digital

Dalam modulasi digital, suatu sinyal analog di-modulasi berdasarkan aliran data digital.

Perubahan sinyal pembawa dipilih dari jumlah terbatas simbol alternatif. Teknik yang umum dipakai adalah :

  • Phase Shift Keying (PSK), digunakan suatu jumlah terbatas berdasarkan fase.
  • Frekeunsi Shift Keying (FSK), digunakan suatu jumlah terbatas berdasarkan frekuensi.
  • Amplitudo Shift Keying (ASK), digunakan suatu jumlah terbatas amplitudo.

(www.wikipedia.org/wiki/modulasi)

1.3 Pengenalan Sistem Komunikasi di Kehidupan Maritim

1.3.1 Penggunaan Telepon Satelit di Kapal

Telepon berbasis satelit yang mempunyai jangkauan lebih luas, kini dapat dimanfaatkan untuk bertelekomunikasi di tengah laut, baik dari kapal ke kapal, maupun dari kapal ke tempat tujuan di darat yang selama ini lebih banyak dilakukan dengan sistem radio komunikasi.

Aplikasi baru untuk telekomunikasi di kapal atau laut inilah yang diperkenalkan pada 3rd International Communications and Networking Solutions Exhibition (Connectivity Indonesia 2001) di Jakarta-yang berakhir Sabtu (13/10)-dengan nama Byru Marine.

Menurut Adi Rahman Adiwoso, CEO Pasifik Satelit Nusantara (PSN) pada peluncuran layanan itu, telekomunikasi berbasis satelit diperlukan di perairan Indonesia yang kondisi geografisnya sebagian besar adalah laut. "Teknologi satelit dapat mengatasi ketiadaan layanan telepon di tengah laut," ujarnya.

Uji coba penggunaan sistem telepon satelit tersebut telah dilakukan selama beberapa minggu dengan mengoperasikannya pada beberapa jenis kapal, di antaranya kapal cargo, penumpang, kapal nelayan, dan kapal pesiar. Pada kapal-kapal itu dipasang komponen Byru Marine yang terdiri dari kotak utama dengan penghubung telepon, antena, dan adaptor daya dan kabel.

Dari kapal-kapal itu sinyal Byru Marine akan diteruskan oleh satelit komunikasi Garuda-1 sistem ACeS (Asia Cellular Satellite) melalui Gateway ke telepon tujuan. Satelit tersebut dapat melayani sambutan telepon dari kapal-kapal yang berlayar mulai dari perairan di selatan Pakistan, Indonesia, hingga selatan Papua Niugini, dan perairan barat Filipina, Taiwan, Jepang, hingga Korea Utara.

Uji coba pengoperasian dilakukan di hampir seluruh perairan Indonesia, tidak hanya pada cuaca cerah, namun juga saat mendung. "Dengan hasil yang cukup baik, diharapkan layanan ini dapat dimulai akhir tahun ini," ujar Adi.

Sementara itu, pada saat yang sama pada pameran internasional tersebut, diperkenalkan pula Starnet yang merupakan perpaduan antara VSAT (Very Small Aperture Terminal) dan Broadband Internet.

Layanan ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan Internet di daerah, bahkan di desa-desa yang belum memiliki saluran telepon dan jauh dari jangkauan ISP (Internet Service Provider).

1.3.2 Penggunaan Radio di Bidang Maritim

1.3.2.a Pengertian Radio

Radio adalah teknologi yang membolehkan pengiriman sinyal oleh modulasi gelombang elektromagnetik. Gelombang ini melintas (merambat) lewat udara dan juga kevakuman angkasa, gelombang ini tidak memerlukan medium pengangkutan.Gelombang radio adalah satu bentuk dari radiasi elektromagnetik, dan terbentuk ketika objek bermuatan listrik dipercepat dengan frekuensi yang terdapat dalam frekuensi radio (RF) dalam spektrum elektromagnetik. Gelombang ini dalam jangkauan 10 hertz sampai beberapa gigahertz. Radiasi Elektromagnetik bergerak dengan cara elektrik dan magnetik osilasi.

Adapun gelombang elektromagnetik lainnya, yang memiliki frekuensi di atas gelombang radio adalah sinar gamma, sinar-X, inframerah, ultraviolet, dan cahaya terlihat.Ketika gelombang radio melalui kabel, osilasi dari medan listrik dan magnetik dapat mempengaruhi arus bolak-balik dan voltasi di kabel. Ini dapat diubah menjadi signal audio atau lainnya yang dapat membawa informasi.

Meskipun kata 'radio' digunakan untuk menjelaskan fenomena ini, transmisinya yang kita kenal sebagai televisi, radio, radar, dan telepon genggam adalah kelas dari emisi frekuensi radio.

Bagi stasiun-stasiun maritim Gelombang pendek adalah jalur pilihan bagi komunikasi radio antar kapal di laut dan kapal dengan daratan. Ada juga ratusan stasiun radio pantai dan sejumlah besar stasiun radio di kapal yang dapat dimonitor dengan radio penerima yang memiliki fasilitas untuk mode SSB dan Morse

1.3.2.b Sejarah Penemuan Komunikasi Radio

Dasar teori dari perambatan gelombang elektromagnetik pertama kali dijelaskan pada 1873 oleh James Clerk Maxwell dalam papernya ke Royal Society teori dinamika medan elektromagnetik (bahasa Inggris: A dynamical theory of the electromagnetic field), setelah kerjanya antara 1861 dan 1865.Pada 1878 David E. Hughes adalah orang pertama yang mengirimkan dan menerima gelombang radio ketika dia menemukan bahwa keseimbangan induksinya menyebabkan gangguan ke telepon buatannya. Dia mendemonstrasikan penemuannya kepada Royal Society pada 1880 tapi hanya dibilang itu cuma merupakan induksi.

Heinrich Rudolf Hertz antara 1886 dan 1888, pertama kali membuktikan teori Maxwell melalui eksperimen, memperagakan bahwa radiasi radio memiliki seluruh properti gelombang (sekarang disebut gelombang Hertzian), dan menemukan bahwa persamaan elektromagnetik dapat diformulasikan ke persamaan turunan partial disebut persamaan gelombang.

1.3.2.c Penggunaan Radio

Banyak penggunaan awal radio adalah maritim, untuk mengirimkan pesan telegraf menggunakan kode Morse antara kapal dan darat. Salah satu pengguna awal termasuk Angkatan Laut Jepang memata-matai armada Rusia pada saat Perang Tsushima di 1901. Salah satu penggunaan yang paling dikenang adalah pada saat tenggelamnya RMS Titanic pada 1912, termawuk komunikasi antara operator di kapal yang tenggelam dan kapal terdekat, dan komunikasi ke stasiun darat mendaftar yang terselamatkan.Sekarang ini, radio banyak bentuknya, termasuk jaringan tanpa kabel, komunikasi bergerak di segala jenis, dan juga penyiaran radio. Baca sejarah radio untuk informasi lebih lanjut.Sebelum televisi terkenal, siaran radio komersial termasuk drama, komedi, beragam show, dan banyak hiburan lainnya; tidak hanya berita dan musik saja. Lihat pemrograman radio.

a. Berbagai Sinar pada radio yang membahayakan kelangsungan hidup bagi makhluk hidup,antara lain :

Sinar gamma (seringkali dinotasikan dengan huruf Yunani gamma, γ) adalah sebuah bentuk berenergi dari radiasi elektromagnetik yang diproduksi oleh radioaktivitas atau proses nuklir atau subatomik lainnya seperti penghancuran elektron-positron. Sinar gamma memang kurang mengionisasi dari sinar alpha atau beta. Namun, mengurangi bahaya terhadap manusia membutuhkan perlindungan yang lebih tebal. Mereka menghasilkan kerusakan yang mirip dengan yang disebabkan oleh sinar-X, seperti terbakar, kanker, dan mutasi genetika. Dalam hal ionisasi, radiasi gamma berinteraksi dengan bahan melalui tiga proses utama: efek fotoelektrik, penyebaran Compton, dan produksi pasangan

Sinar-X adalah salah satu bentuk dari radiasi elektromagnetik dengan panjang gelombang berkisar antara 10 nanometer ke 100 picometer (mirip dengan frekuensi dalam jangka 30 PHz to 60 EHz). Sinar-X umumnya digunakan dalam diagnosis gambar medikal dan Kristalografi sinar-X. Sinar-X adalah bentuk dari radiasi ion dan dapat berbahaya.

Inframerah adalah radiasi elektromagnetikdari panjang gelombang lebih panjang dari cahaya tampak,tetapi lebih pendek dari gelombang radio.Inframerah berarti “ bawah merah “ ( dari bahasa latin infra, “ bawah “ ),merah merupakan warna dari cahaya tampakdengan gelombang terpanjang.Radiasi inframerah memiliki jangkauan tiga orderdan memiliki panjang gelombang antara 700 nm dan 1 mm

Ultraungu (sering disingkat UV, dari bahasa Inggris: ultraviolet) adalah radiasi elektromagnetis terhadap panjang gelombang yang lebih pendek dari daerah dengan sinar tampak, namun lebih panjang dari sinar-X yang kecil.Radiasi UV dapat dibagi menjadi hampir UV (panjang gelombang: 380–200 nm) dan UV vakum (200–10 nm). Istilah ultraviolet berarti "melebihi ungu" (dari bahasa Latin ultra, "melebihi"), sedangkan kata ungu merupakan warna panjang gelombang paling pendek dari cahaya dari sinar tampak. Beberapa hewan, termasuk burung, reptil, dan serangga seperti lebah dapat melihat hingga mencapai "hampir UV". Banyak buah-buahan, bunga dan benih terlihat lebih jelas di latar belakang dalam panjang gelombang UV dibandingkan dengan penglihatan warna manusia.

b. Frekuensi radio

. Frekuensi radio menunjuk ke spektrum elektromagnetik di mana gelombang elektromagnetik dapat dihasilkan oleh pemberian arus bolak-balik ke sebuah antena. Frekuensi seperti ini termasuk bagian dari spektrum di bawah ini:

Nama band

Singkatan

band ITU

Frekuensi

Panjang gelombang




< href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Hz&action=edit" title="Hz">Hz

> 100,000 km

Extremely low frequency

ELF

1

3–30 Hz

100,000 km – 10,000 km

Super low frequency

SLF

2

30–300 Hz

10,000 km – 1000 km

Ultra low frequency

ULF

3

300–3000 Hz

1000 km – 100 km

Very low frequency

VLF

4

3–30 kHz

100 km – 10 km

Low frequency

LF

5

30–300 kHz

10 km – 1 km

Medium frequency

MF

6

300–3000 kHz

1 km – 100 m

High frequency

HF

7

3–30 MHz

100 m – 10 m

Very high frequency

VHF

8

30–300 MHz

10 m – 1 m

Ultra high frequency

UHF

9

300–3000 MHz

1 m – 100 mm

Super high frequency

SHF

10

3–30 GHz

100 mm – 10 mm

Extremely high frequency

EHF

11

30–300 GHz

10 mm – 1 mm




Di atas 300 GHz

<>

Catatan: di atas 300 GHz, penyerapan radiasi elektromagnetik oleh atmosfer Bumi begitu besar sehingga atmosfer secara efektif menjadi "opak" ke frekuensi lebih tinggi dari radiasi elektromagnetik, sampai atmosfer menjadi transparan lagi pada yang disebut jangka frekuensi infrared dan jendela optikal.

Band ELF, SLF, ULF, dan VLF bertumpuk dengan spektrum AF, sekitar 20–20,000 Hz. Namun, suara disalurkan oleh kompresi atmosferik dan pengembangan, dan bukan oleh energi elektromagnetik.Penghubung listrik didesain untuk bekerja pada frekuensi radio yang dikenal sebagai Penghubung RF. RF juga merupakan nama dari penghubung audio/video standar, yang juga disebut BNC (Bayonet Neill-Concelman).

1.3.2.d Mendengarkan Siaran Radio Pada Gelombang

Mendengarkan siaran radio pada gelombang pendek (shortwave/SW) atau band internasional, adalah hobi yang mengasyikkan dan sekaligus hiburan yang edukatif. Walau kini terdapat alat-alat komunikasi baru yang dapat menghubungkan orang ke pusat informasi secara cepat, namun pera­nan stasiun radio - terutama radio siaran gelombang pendek dalam penyampaian berita, tampaknya belum tersaingi. Ini terbukti ketika Perang Teluk terjadi. Di seluruh dunia, termasuk di tanah air banyak orang yang "kembali" menjadi pendengar radio. Padahal, di rumahnya, dia dapat mengikuti siaran TV yang memang sudah menambah jam siarannya untuk meliput peristiwa internasional itu.

Selama Perang Teluk, penjualan radio penerima yang memiliki fasilitas SW meningkat bila dibandingkan dengan penjualan pada masa sebelumnya. Harus diakui bahwa penyampaian berita melalui radio masih lebih cepat ketimbang media elektronik lainnya.

1.3.2.e Pengertian Gelombang Pendek

Gelombang standar radio siaran amplitudo modulation (AM)) dimulai dari 540 sampai dengan 1600 kHz. Di Indonesia lebih dikenal dengan gelombang menengah (mediumwave/MW). Band MW ini adalah tempat mengudaranya stasiun-stasiun radio siaran swasta di Indonesia - sebelum banyak yang pindah ke FM. Spektrum frekwensi MW tidak tergolong gelombang pendek. Spektrum gelombang pendek justru dimulai dari batas akhir alokasi frekwensi standar untuk radio siaran AM di MW, yaitu 1600 kHz sampai 30000 kHz atau 30 MHz (1000 kHz=1 MHz). Sinyal radio yang dipancarkan pada gelombang pendek akan dapat dipantau di tempat-tempat yang sangat jauh (DX). Ini terjadi karena pancaran sinyal dari bumi akan terpantul kembali ke bagian lain di bumi karena berbenturan dengan ionosfir, sebuah lapisan yang tidak terlihat di atas bumi. Sebagai akibat dari proses pemantulan itu - yang dapat terjadi berkali-kali, dan faktor- faktor alamiah lainnya (propagasi), maka penerimaan sinyal radio siaran di gelombang pendek dapat berlangsung dengan baik di siang hari atau pun di malam hari.

1.3.2.f Komunikasi Radio Pada Keadaan Darurat

Pada era informasi yang kita alami saat ini, bermacam sarana telekomunikasi berkembang sangat pesat dan dengan mudah kita dapatkan. Dari telepon kabel, seluler, hingga satelit berkembang dengan pesatnya sehingga kita dengan mudah bisa menikmatinya. Sementara itu, keadaan yang sebaliknya terjadi pada perkembangan komunikasi radio, yang seakan semakin terpinggirkan sehingga sedikit yang memanfaatkan sarana komunikasi yang pernah mempunyai peran penting pada era tahun 40-an ini. Khususnya komunikasi radio pada band HF (high frequency, 3-30 MHz) dan VHF-rendah (very high frequency, 30-50 MHz) semakin sedikit orang mengenal dan menggunakannya. Namun, sesungguhnya masih banyak kegunaan dari perangkat komunikasi marjinal tersebut.

Gelombang radio pada frekuensi 3-50 MHz dapat dipantulkan oleh lapisan ionosfer, suatu lapisan yang terbentuk dari ion dan elektron pada ketinggian sekitar 60 km sampai dengan 600 km di atas permukaan bumi. Dengan pemantulan oleh lapisan ionosfer ini, maka komunikasi radio pada band ini bisa mencapai jarak lebih dari 2.000 km tanpa perangkat pemancar ulang (repeater). Ini berbeda dengan komunikasi pada band VHF-tinggi (50-300 MHz) dan UHF (300-3.000 MHz). Untuk mencapai jarak yang jauh, maka komunikasi pada band ini memerlukan perangkat repeater, dan untuk band orde gigahertz (lebih dari 1.000 MHz) bisa memanfaatkan satelit sebagai "pemantul" dan "penguat" buatan. Dikarenakan komunikasi radio pada band HF dan VHF-rendah memanfaatkan lapisan ionosfer sebagai pemantul, propagasi gelombangnya akan sangat bergantung pada kondisi lapisan tersebut. Pada saat kondisi ionosfer baik dan frekuensi kerja yang digunakan sesuai dengan kondisi lapisan tersebut, maka peluang keberhasilan komunikasi juga besar sehingga komunikasi radio menjadi lebih optimal. Sebaliknya pada saat kondisi lapisan ionosfer burukdan pemilihan frekuensi kerja yang kurang tepat, maka peluang keberhasilan komunikasi menjadi rendah dan kemungkinan kegagalan juga akan sering terjadi. Oleh karena itu, untuk mengoptimalkan penggunaan komunikasi radio tersebut, diperlukan informasi prakiraan kondisi lapisan ionosfer yang terjadi pada saat berkomunikasi.

Sampai saat ini telah cukup banyak program prediksi propagasi gelombang radio HF dan VHF-rendah yang telah dibuat dan dapat diperoleh dengan harga yang relatif murah dan bahkan ada yang gratis di-download melalui jaringan internet. Selanjutnya, perangkat radio komunikasi dapat diperoleh dengan harga dari puluhan ribu hingga ratusan ribu rupiah. Jika dilihat dari segi jangkauan komunikasi dan biaya operasionalnya, sebetulnya perangkat radio komunikasi relatif murah. Tanpa beban pulsa seperti penggunaan telepon pada umumnya, pembicaraan melalui komunikasi radio bisa menjangkau jarak yang cukup jauh, sebanding dengan telepon interlokal bahkan internasional. Hal seperti ini tentunya merupakan hal positif dan akan menghemat biaya operasional yang tidak sedikit. Bahkan, perkembangan teknologi modem yang terjadi saat ini memungkinkan pengiriman paket data (bukan suara) menggunakan perangkat radio komunikasi ini walaupun kecepatannya masih rendah.

Bagaimana dalam kondisi darurat? Dalam keadaan darurat seperti halnya di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) pada saat terjadi bencana alam gempa bumi dan tsunami saat ini, kita ketahui hampir seluruh infrastruktur di bumi "Serambi Mekkah" ini hancur, termasuk sarana telekomunikasi. Padahal, pada saat bersamaan diperlukan sarana komunikasi untuk melakukan koordinasi penanggulangan korban bencana. Memang telepon satelit banyak disebut-sebut dan digunakan untuk mendukung koordinasi penanganan bencana, namun penulis yakin aparat kepolisian dan TNI banyak terbantu oleh perangkat komunikasi radio yang dipunyai. Bahkan, penulis yakin, banyak pula rekan-rekan dari Organisasi Radio Amatir Republik Indonesia (ORARI) yang dengan peralatan radionya berperan dalam kegiatan kemanusiaan seperti ini. Barangkali inilah kondisi riil yang ada, komunikasi radio masih mempunyai peran yang cukup penting, namun semakin kurang diperhatikan dan semakin ditinggalkan. Mengingat kondisi alam Nusantara dengan berbagai potensinya, termasuk potensi bencana alam, seperti gempa bumi, tsunami, banjir, kekeringan, kebakaran hutan, dan gunung meletus, maka perlu dipertimbangkan sarana pendukung penanggulangan bencana yang lengkap. Baik sarana komunikasi modern dan canggih maupun perangkat komunikasi marjinal seperti radio. Di negara maju seperti Amerika Serikat sekali pun, komunikasi radio masih diperhatikan dan merupakan salah satu sarana komunikasi survival yang banyak digunakan oleh badan penanggulangan bencana.

Di dunia pelayaran dan penerbangan, perangkat komunikasi ini masih merupakan keharusan untuk kapal maupun pesawat terbang. Kemudian wilayah negara Indonesia yang luas dengan medan yang berat juga menjadi salah satu penyebab lambatnya perkembangan pembangunan sarana dan prasarana telekomunikasi di negeri ini, yang jauh di bawah negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia, bahkan Vietnam. Bukan hanya perkembangannya yang lambat, tetapi juga pemerataan pembangunannya juga belum terjadi. Di satu sisi perkembangan telekomunikasi di Pulau Jawa dan kota-kota besar di luar Jawa bisa dikatakan sangat pesat, namun masih banyak daerah-daerah terpencil dan terisolasi, dan tentu saja belum terjamah sama sekali oleh sarana telekomunikasi.

Dari kegiatan sosialisasi yang dilakukan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) pada tahun 2004, terungkap informasi bahwa masih ada daerah terpencil di negeri ini yang masih mengandalkan komunikasi radio. Ini masih lumayan, masih ada daerah yang sama sekali belum memiliki alat komunikasi radio sekali pun, apalagi sarana telekomunikasi seperti telepon kabel atau seluler. Sungguh sangat berat membangun wilayah Nusantara yang demikian kondisinya. Dan, ini harus kita sadari sepenuhnya. Dari segi biaya, maka diperlukan modal dan investasi yang tidak kecil untuk membuka dan menghubungkan seluruh wilayah Nusantara ini melalui telekomunikasi. Belum lagi masalah sumber daya manusia (SDM), khususnya di bidang telekomunikasi dan informasi, yang masih sangat kurang dan masih terbatas kemampuannya. Jadi, wajarlah jika beberapa waktu lalu seorang menteri menyiratkan rasa pesimistis untuk menyongsong era masyarakat informasi tahun 2015 yang telah menjadi komitmen kita. Kondisi demikian sungguh memprihatinkan dan perlu dicari strategi dan kebijakan yang tepat untuk menanggulanginya. Karena itu, sebagai penutup, penulis ingin menyampaikan tiga hal berkaitan dengan komunikasi radio. Pertama, untuk membuka isolasi daerah terpencil, maka pemerintah kabupaten atau kecamatan sebaiknya mengaktifkan kembali sarana komunikasi radio yang sudah ada atau mengadakannya bagi yang belum memiliki. Kedua, sebaiknya pemerintah kabupaten dan kecamatan "menempatkan" sarana komunikasi radio sebagai sarana komunikasi survival yang harus ada dan siap digunakan setiap saat diperlukan, seperti yang berlaku di TNI dan kepolisian. Ketiga, pemerintah kabupaten dan kecamatan sebaiknya meningkatkan kemampuan SDM-nya di bidang komunikasi dan informasi melalui jalinan kerja sama dengan lembaga penelitian maupun perguruan tinggi. Tentu saja semua itu tidak akan berjalan tanpa koordinasi, dukungan, dan peran serta pemerintah pusat dan kita semua.

1.4 Stasiun-Stasiun Yang Mengudara ke Publik

Spektrum gelombang pendek sangat luas, yaitu dari 1600 kHz sampai 30000 kHz. Di jalur ini akan terdengar transmisi radio dari ribuan stasiun-stasiun, seperti:

a. Siaran Internasional

Hampir setiap negara-negara besar, juga negara-negara yang lebih kecil, menyelenggarakan radio siaran (broadcast) dalam bahasa Indonesia dan Inggris yang dapat ditangkap di Indone­sia. Lamanya siaran bervariasi, mulai dari 30 menit sampai dengan 3 jam.

Agar para pendengarnya dapat menangkap siaran mereka dengan jelas, daya transmisinya diperbesar hingga ribuan watt. Berkat adanya stasiun relay-nya di berbagai tempat di dunia, trans­misinya juga bisa diarahkan ke satu kawasan tertentu saja, misalnya ke Indonesia. Jadwalnya pun diatur dengan baik, yaitu di luar jam-jam sibuk pendengar di kawasan itu. Beberapa stasiun radio siaran dalam bahasa Indonesia dan Inggris yang mudah dipantau adalah:

BBC London, Radio Moskow, Radio Jepang, Suara Amerika, Radio Australia, Radio Nederland, All India Radio, Radio Korea Selatan, Radio Beijing, Suara Jerman, Suara Malaysia, dll.

Selain stasiun-stasiun radio siaran internasional, yang dikelola oleh pemerintah, masih ada pula stasiun-stasiun radio siaran regional, lokal dan swasta yang menyelenggarakan programa-programanya untuk masyarakat internasional. Mereka juga secara teratur menyelenggarakan siaran dalam bahasa daerah yang ditujukan untuk pendengar di kawasan tertentu. Radio Republik Indonesia (RRI) juga memiliki bagian external services yang menyelenggarakan siaran luar negeri bernama Suara Indonesia (The Voice of Indonesia). Siaran RRI dalam berbagai bahasa (Inggris, Spanyol, Mandarin dll) itu dipancarkan secara berjadwal pada jalur gelombang pendek. Bagi warga Indonesia yang sedang merantau, Suara Indonesia bisa menjadi jembatan untuk sejenak "pulang" ke tanah air.

b. Stasiun Amatir Radio (Ham)

Anggota amatir radio di seluruh dunia berjumlah lebih dari 800.000 orang. Di Indonesia, sampai tahun 1992, anggota Orga­nisasi Amatir Radio Indonesia (ORARI) tercatat lebih dari 25.000 orang. Dengan mendengarkan kontak radio (QSO) antarama­tir radio di gelombang pendek kita akan dapat belajar tentang dunia mereka.

Stasiun-stasiun radio amatir beroperasi pada frekwensi yang berbeda dengan frekwensi untuk radio siaran. Apabila anda hendak mendengar kontak radio antarmereka maka anda perlu memiliki radio penerima tipe general coverage. Radio penerima jenis ini lebih sensitif dan memiliki beberapa fasilitas tambahan, misalnya jangkauan frekwensi yang luas (dari 500 HZ sampai 30000 kHz).

Pada perangkat radio jenis ini juga tersedia kontrol-kon­trol tambahan untuk memudahkan kita menerima dan mendengarkan berbagai mode emisi seperti AM, FM, CW, SSB, filter-filter untuk menghalau gangguan dll.

Agar dapat memancarkan sinyalnya ke tempat yang jauh serta agar frekwensi yang dialokasikan untuk mereka dapat digunakan secara efisien, maka para amatir radio memancarkan suaranya dengan mode khusus yang disebut single sideband (SSB), dan dengan kode Morse melalui mode continuous wave (CW). Jadi, adalah penting untuk memilih radio penerima yang dapat menang­kap transmisi radio dengan mode-mode khusus itu.

c. Citizen Band (CB)

Di Indonesia, radio Citizen Band (CB) dikenal sejak seki­tar tahun 70-an. Kontak antaroperator stasiun CB dapat diden­garkan pada radio penerima tipe general coverage. Operasi mereka dilakukan pada frekwensi 27 MHz atau gelombang 11 meter.

Penggunaan CB juga populer di negara-negara tetangga, seperti di Filipina, Thailand dan Australia, sehingga percaka­pan mereka di udara dapat didengarkan.

d. Stasiun-stasiun serba-guna (utility)

Apabila dari spektrum gelombang pendek, anda kurangi aloka­si frekwensi untuk stasiun-stasiun radio siaran internasional, amatir radio dan CB, maka pada frekwensi sisanya akan terden­gar transmisi sejumlah stasiun radio yang dinamakan stasiun- stasiun utility.

Termasuk dalam golongan ini adalah stasiun radio komunikasi untuk keperluan komersil, pemerintah, militer, Search and Rescue (SAR) dan stasiun radio penelitian. Transmisinya bukan untuk pendengar umum. Namun, itu tidak berarti kita tak dapat mendengarkannya. Yang tergolong dalam stasiun-stasiun utility adalah:

Ø Stasiun Internasional untuk Penerbangan (auronautical)

Pesawat terbang komersil berkomunikasi dengan menara penga­was, dan dengan pesawat terbang lainnya, juga pada gelombang pendek.

Oleh karena itu, melalui radio penerima, kita dapat menden­gar percakapan pilot-pilot Garuda Indonesia dengan menara pengawas di bandar udara Los Angeles, atau pilot Singapore Airlines berbicara dengan pengawas lalu lintas udara di menara Soekarno-Hatta. Percakapan ini dilakukan dalam bahasa Inggris.

Ø Stasiun-stasiun Maritim

Gelombang pendek adalah jalur pilihan bagi komunikasi radio antar kapal di laut dan kapal dengan daratan. Ada juga ratusan stasiun radio pantai dan sejumlah besar stasiun radio di kapal yang dapat dimonitor dengan radio penerima yang memiliki fasilitas untuk mode SSB dan Morse (CW).

Ø Stasiun-stasiun Militer

Pesan-pesan militer dikirim melalui satelit dan/atau dengan kode-kode/sandi sehingga kerahasiaannya tetap terjamin. Namun, masih cukup banyak komunikasi radio kemiliteran yang dipancar­kan melalui gelombang pendek. Tentu saja hanya pendengar yang jeli dan berpengalaman saja yang akan mampu mengidentifikasi stasiun-stasiun ini.

Ø Stasiun-stasiun Tanda Waktu

Selain stasiun di Greenwich, Inggris, banyak negara yang mengoperasikan stasiun radio yang hanya menyiarkan tanda waktu (time signal) yang mengudara selama 24 jam sehari.

Tanda waktu yang dipancarkannya serta gelombang yang digu­nakan adalah sangat akurat sehingga dapat dimanfaatkan untuk navigasi, pencocokkan waktu dan frekwensi radio. Ketepatan standar waktu adalah penting bagi navigasi dan komunikasi maritim, penerbangan dan/atau penelitian.Umumnya informasi ini dipancarkan dalam mode SSB. Sesekali juga diperdengarkan suara penyiar untuk keperluan identifika­si.

Beberapa stasiun tanda waktu dari negara lain yang dapat didengar di Indonesia adalah dari Jepang dan Hawaii. Apabila keadaan propagasi baik, kita dapat mendengar stasiun-stasiun serupa dari Eropa dan Amerika.

Ø Stasiun lain-lain

Masih banyak stasiun radio gelombang pendek yang tak dapat digolongkan ke dalam jenis-jenis yang disebutkan terdahulu. Misalnya, radio siaran yang beroperasi secara gelap - untuk eksperimen atau untuk propaganda. Stasiun radio siaran yang ilegal disebut pirate radio. Sedangkan siaran radio gelap untuk menyampaikan komu­nike/propaganda politik sebuah kelompok pembangkang disebut clandestine radio.

1.5 Pengertian Radar

Radar (dalam bahasa Inggris merupakan singkatan dari radio detection and ranging, yang berarti deteksi dan penjarakan radio) adalah sistem yang digunakan untuk mendeteksi, mengukur jarak dan membuat map benda-benda seperti pesawat dan hujan. Gelombang radio kuat dikirim dan sebuah penerima mendengar gema yang kembali. Dengan menganalisa signal yang dipantulkan, pemantul gema dapat ditentukan lokasinya dan kadang-kadang ditentukan jenisnya. Walaupun signal yang diterima kecil, tapi radio signal dapat dengan mudah dideteksi dan diperkuat.

Gelombang radio radar dapat diproduksi dengan kekuatan yang diinginkan, dan mendeteksi gelombang yang lemah, dan kemudian diamplifikasi( diperkuat ) beberapa kali. Oleh karena itu radar digunakan untuk mendeteksi objek jarak jauh yang tidak dapat dideteksi oleh suara atau cahaya. Di dunia pelayaran dan penerbangan, perangkat komunikasi ini masih merupakan keharusan untuk kapal maupun pesawat terbang. Kemudian wilayah negara Indonesia yang luas dengan medan yang berat juga menjadi salah satu penyebab lambatnya perkembangan pembangunan sarana dan prasarana telekomunikasi di negeri ini, yang jauh di bawah negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia, bahkan Vietnam. Bukan hanya perkembangannya yang lambat, tetapi juga pemerataan pembangunannya juga belum terjadi. Di satu sisi perkembangan telekomunikasi di Pulau Jawa dan kota-kota besar di luar Jawa bisa dikatakan sangat pesat, namun masih banyak daerah-daerah terpencil dan terisolasi, dan tentu saja belum terjamah sama sekali oleh sarana telekomunikasi.

1.5.1 Pengembangan Radar R.VON HIPPEL : Perangkat Pendeteksi Yang Vital Untuk Keamanan

Dalam dunia yang dirudung teror, alat deteksi merupakan perangkat vital. Di antara perangkat pendeteksi yang cukup ampuh adalah radar yang merupakan kependekan dari radio detection and ranging. Setiap negara di dunia patut berterima kasih dan menyatakan belasungkawa atas meninggalnya Arthur R. von Hippel.

Ilmuwan kelahiran Jerman penyumbang pengembangan radar yang kita kenal saat ini meninggal pertengahan pekan silam dalam usia 105 tahun. Ia berpulang akibat komplikasi flu, demikian seperti yang dilansir Associated Press (AP). Tanpa jerih payah Von Hippel, radar yang dikenal tersebut tidak akan bisa sesempurna kinerjanya seperti saat ini. Selain dikenal sebagai ahli radar, Von Hippel juga populer sebagai pionir di bidang studi sains material. Ia juga telah mendirikan Laboratory for Insulation Research di Massachusetts Institute of Technology (MIT), Amerika Serikat (AS).

Pada 1948 Von Hippel pernah menerima anugerah sertifikat kehormatan dari presiden AS Harry Truman berkat kontribusi laboratoriumnya pada pengembangan radar selama Perang Dunia II. Setelah perang berakhir lelaki ini menjadi orang pertama yang mempelajari relasi bidang struktur molekul pada material. Pada 1976, Materials Research Society yang didirikannya memperoleh penghargaan tertinggi. Putra Von Hippel sendiri, yakni Eric von Hippel, sekarang menjabat sebagai profesor bidang inovasi di MIT.

Von Hippel yang lahir di Rostock, Jerman, sempat bekerja sama melakukan studi fisika dengan pemenang Nobel, James Franck. Ia kemudian menikahi putri Franck, Dagmar pada 1930. Tahun 1933 Hippel meninggalkan Jerman dan bekerja di Niels Bohr Institute, Copenhagen sebelum bergabung dengan MIT. Sejak 1963 ayah dari empat putra dan satu putri ini memensiunkan diri dari Department of Electrical Engineering, MIT.

Sesungguhnya apa yang dilakukan Hippel sehingga namanya begitu dikenal sebagai ilmuwan? Pakar bidang fisika elektrik material ini telah melakukan pelbagai riset termasuk ihwal ferroelektrik, ferromagnetik, polarisasi dielektrik, hingga fotosel, fisika solid dan sejenisnya. Risetnya yang paling dikenal adalah dalam bidang pengembangan teknologi radar semasa Perang Dunia II. Riset yang dilakukan di laboratorium radiasi MIT tersebut dipusatkan pada teknik pengukuran, manufaktur komersial dan aplikasi teknis bagi radar dielektrik. Dialah yang menciptakan standar teknik pengukuran dan piranti pengenal bagi semua properti dielektrik dari banyak material yang berfungsi sebagai pengukur temperatur.

Setelah perang berakhir Hippel tidak berpangku tangan saja. Ia melanjutkan penelitiannya bidang riset material ke ranjangan molekuler pada material dan piranti. Bukunya yang pertama berjudul Dielectrics and Waves terbit pada 1954. Disusul kemudian dengan Dielectric Materials and Applications pada 1952.

Von Hippel bukanlah satu-satunya ilmuwan yang berkontribusi dalam perkembangan teknologi radar masa kini. Jauh sebelum Von Hippel ada Heinrich Hertz, ilmuwan yang juga berasal dari Jerman ini pada pertengahan 1880 ia melakukan eksperimen fisika sehingga bisa membuktikan keberadaan gelombang radio, demikian menurut data yang dikumpulkan dalam Ensiklopedi Nasional Indonesia, 1997.

Penemuan Hertz ini dimanfaatkan ahli teknik Jerman Christian Hulsmeyer. Ia mengembangkan alat penggema radio sederhana yang digunakan untuk navigasi kapal laut. Ciptaan ini mendapat paten tahun 1904. Baru pada 1922 Guglielmo Marconi menggunakan pantulan gelombang radio sebagai pendeteksi. Ini sebabnya alat tersebut dinamakan radar. Tak lama kemudian Laboratorium Penelitian Angkatan Laut AS mencoba menggunakan radiasi gelombang kontinu untuk mendeteksi kapal yang lewat. Disusul kemudian pada 1925 dikembangkan prinsip pemakaian pulsa radio oleh dua orang fisikawan AS, Gregory Breit dan Merle A.Tuve. Mereka berhasil mengukur ketinggian lapisan ionosfer bumi dengan melambungkan pulsa-pulsa radio menuju lapisan ionosfer dan menghitung waktu yang dibutuhkan gelombang pantul untuk kembali.

Siluman Radar

Kini radar merupakan perangkat utama dalam pelayaran dan penerbangan. Keselamatan pada kedua bidang tersebut berkaitan dengan kondisi cuaca dan jarak pandang terbatas sehingga sangat tergantung pada radar. Bandar udara juga memanfaatkan radar untuk mengetahui posisi pesawat udara yang ada di sekitarnya. Selain untuk kegiatan sipil, radar juga sangat populer dalam dunia kemiliteran.

Pada operasi militer radar dipakai untuk mendeteksi dan melokalisasi pesawat terbang atau kapal milik pihak sendiri maupun musuh. Dalam teknologi kemiliteran dikenal pula radar beacon, sistem radar yang akan memancarkan isyarat tertentu apabila menerima sinyal dari radar lain. Alat ini biasanya dipasang pada kapal perang, pesawat tempur dan tank. Dengan alat ini maka pesawat dapat mengetahui bahwa dirinya berada dalam pelacakan radar lawan, mulai dari proses pembidikan hingga penembakan oleh kanon atau peluru kendali musuh.

Radar juga berguna bagi pengumpulan data intelijen. Selain itu alat canggih yang sudah dimiliki semua negara tersebut mampu pula mencari sasaran ke udara, darat maupun laut, pencarian dan penyelamatan serta pembidikan peluru kendali. Seiring dengan perkembangan zaman, kini setiap negara maju mempunyai teknologi radar andalan. AS misalnya mengandalkan radar berteknologi siluman alias stealth technology. Ini merupakan teknologi penangkal radar yang tak lain merupakan teknologi lacak radar rendah. Teknologi ini diterapkan pertama kali pada dua buah pesawat terbang Angkatan Udara (AU) AS, pesawat tempur F-117 A Stealth dan pembom B-2 Stealth.

Untuk menggunakannya dibutuhkan bentuk tubuh pesawat yang khusus sehingga gelombang radar terpantul dan diterima balik oleh radar lawan menjadi kacau dan sangat minim. Selain itu pesawat juga harus dicat dengan peredam gelombang radar yang akan menyerap sebagian besar gelombang radar yang menerpa badan pesawat.

No comments:

PUSTAKA KITA

> MISRIADI BLOG
> OKEZONE
> GAME ONLINE FULLY
> DETIK
> BLOG TARGET
> VIVA NEWS
> DESIGN BLOG
> BIRU BLOG
> LOGO BLOG
> BLOG BASIS BAHASA
> HTML BLOG
> SENIOR BLOG PANUTAN
free counters



website design