Wednesday, December 16, 2009

Kantin Universitas Surabaya Hancur Akibat Ledakan Elpiji

Surabaya (Jawa Timur) - Terjadi ledakan Rabu (16/12) dini hari di lokasi sekitar Universitas Surabaya (Ubaya). Akibat ledakan mengakibatkan hancurnya kantin dari Fakultas Psikologi Ubaya, serta 6 stan juga ikut hancur beserta gedung yang berada di lokasi sekitar ledakan tersebut.

Sementara, disebutkan bahwa ledakan tersebut terjadi akibat ledakan elpiji yang berada di salah satu stan. Namun, untuk memastikan kejadian di TKP, maka tetap dilakukan penyelidikan, kata Kasat Reskrim Polres Surabaya Timur Ajun Komisaris Hartoyo.

Selain itu, akibat ledakan yang terjadi pukul 23.50 dini hari ini juga menyebabkan beberapa kaca pada gedung PB yang terdiri 2 lantai juga ikut pecah. Sedangkan gedung yang berada tepat di depan kantin tampak luluh lantak akibat ledakan.

Menurut Sulistyawati, kerugian akibat ledakan akan ditanggung oleh pihak kampus. Hal ini disebabkan, ledakan yang terjadi di Kantin tersebut bukan unsur kesengajaan.

Ditulis Oleh : Misriadi Mahdi, gambar diambil dari media indonesia.

Read more...

Sunday, December 13, 2009

Menghitung Hukum Maling 6,7 Trilyun

Masalah negeri ini memang tidak pernah tuntas. Tanah air ini memang tak luput dari permasalahan, memang sudah biasa di setiap Negara punya masalah. Yang menjadi terheran-heran negeri Indonesia bukan soal masalahnya, tapi mengenai permasalahan yang terjadi itu tak pernah terselesaikan, alias tak pernah berakhir dengan “Happy Ending”.

Semua permasalahan yang terjadi memang tidak pernah mempunyai akhir. Semua permasalahan itu adalah jalan yang tak berujung, dan hingga menghilang tak bertitik di kasat mata. Semua permasalahan yang terjadi hanya selesai dengan ditiban dengan permasalahan baru yang lebih besar. Konspirasi saat ini, akan berkahir ketika datang konspirasi yang lebih besar, bukan hilang karena solusi dan penyelesaian.

Begitu banyak dan rata-rata semua kasus di Indonesia tak pernah berakhir seperti yang diharapkan rakyat. Menilik kejadian yang berlalu, masalah BLBI, hilang ketika dana itu berputar di luar negeri dan tak bisa kembali, masalah Buaya dan Cicak hilang karena rekaman anggodo, masalah anggodo hilang ketika muncul masalah dana kucuran 6,7 trilyun, masalah 6,7T hilang ketika muncul masalah politik terbuka ical-srimulyani, masalah politik terbuka hilang ketika saling lapor, dan begitu seterusnya berturut-turut mengalahkan masalah lama dengan munculnya masalah yang lebih besar. Miris, bimbang, khawatir, ketika negeri ini tak pernah ada akhir dan penyelesaian yang memuaskan. Semua masalah hanya selesai ketika masalah yang baru jauh lebih besar daripada masalah sebelumnya. Itulah yang terjadi di Indonesia, semua permasalahan yang terjadi “Never Happy Ending”.

Begitu mudahnya hukum di Indonesia dipermainkan, terutama bagi yang punya banyak duit. Semua bisa dibelikan, termasuk hukum. Lihat saja kasus demi kasus, sebenarnya bukan tidak mampu menyelesaikan, tapi tidak ada tekat untuk menyelesaikan. Semua pada kenyang, dan semua pada diam, bagai “ tikus yang jatuh di gunungan beras”. Tak mencicit bunyinya, takut ketauan, tapi merasa kenyang dapat makanan, sungguh memalukan cuma sama dengan seekor tikus yang menjijikkan.

Ketika keadilan itu tak pernah ada, sudah tiba saatnya rakyat membuat pengadilan sendiri. Ini semua terjadi karena tidak adanya kepercayaan lagi kepada penegak hukum. Kapan ini semua berakhir, kita tak pernah tau karena memang negeri ini tak pernah berakhir dalam menghadapi permasalahan.

Lihat saja kasus Prita Mulyasari. Ketika beliau melakukan curhat apa yang benar-benar dialaminya, justru tersungkur di bui. Memang bukan masalah kurungan 3 bulannya, tapi masalah moral hati ketika dia dicap sebagai narapidana. Cap itu tak semua bisa menerima, tapi itulah rakyat kecil hanya bisa menerima dengan kepasrahan. Karena memang rakyat kecil tak berhak mendapatkan hukum dan keadilan di negeri ini.

Lihat lagi masalah nenek minah yang tua rentan. Karena memetik 2 daun tembakau yang bernilai Rp 2 ribu, beliau dikenai hukuman 1,5 bulan. Padahal ini semua dilakukan nenek minah untuk bibit tanaman, dan tentunya tidaklah merusak tanaman yang ada. Tapi itu terjadi karena dilaporkan oleh orang yang punya banyak duit.

Apakah pernah ada rakyat miskin di negeri ini memenangi kasus di pengadilan, itu mustahil. Yang menang di pengadilan semuanya orang yang banyak duit, yang punya jabatan, yang punya segalanya. Memang kemiskinan adalah masalah krusial di negeri ini. Maka dari itu rakyat miskin sudah seharusnya berpangku untuk menumpas kemiskinan itu. Karena selamanya negeri ini akan menjadi negeri mainan orang berduit, selagi kebodohan dan kemiskinan masih merata di negeri ini.

Tak ada keadilan di negeri ini. Tapi kita sebagai rakyat jelata, sudah mulai bangkit dengan adanya hukum pengadilan rakyat sendiri. Ini bisa dilihat pada kasus prita, ketika dihadapi oleh rakyat, barulah hukum rakyat jelata itu bisa mendapat kabar gembira, kalau tidak ada gerakan dukung prita, maka prita siap menjadi makanan bagi OMNIvora.

Hukuman di negeri ini memang tak pernah seimbang, dan selalu berat sebelah. Sungguh berbeda sekali dari symbol pengadilan yang digambarkan sebuah timbangan dan tutup mata patung pengadilan. Apa kita harus membuka tutup mata patung itu, biar bisa melihat jelas apa yang terjadi sekarang ini.

Rakyat kecil cukup gampang diadili, senantiasa yang banyak duit sulit. Kasus nenek minah dan kasus Century kita lihat, ketika keadilan itu tak seimbang maka rakyat pun marah, maka sudah seharusnya pengadilan rakyat memberi keputusan karena kita sudah muak.

Kita hitung-hitung saja seberapa besar yang harus diberikan hukuman kepada maling 6,7 trilyun dengan perbandingan kasus nenek minah. Kenapa dibandingkan, karena memang hukum itu harus ditegakkan, harus seimbang, tak beda antara si miskin dan si kaya. Kita tuntut itu, karena jangan sampai beda hukumannya.

Berikut adalah hitungan yang pantas mereka terima yang memalingkan uang rakyat. Uang yang seharusnya menuntaskan kemiskinan di negeri ini.

Nenek Minah (miskin): Rp 2 ribu rupiah = 1,5 bulan

Maling negara (kaya) : Rp 6,7 trilyun = 5.025.000.000 bulan = 418.750.000 tahun= 4.187.500 abad.

Kalau sudah hitungannya berabad, maka mati dalam bui adalah yang tepat (alias hukuman mati).

Itulah hukuman yang harus dilakukan pengadilan, kalau memang benar-benar keadilan ditegakkan. Jangan bedakan antara si kaya dan si miskin. Karena pengadilan itu harus sama, tak ada tebang pilih, tak terkecuali rakyat miskin.

Tapi sayang, itu semua hitungan saja. Saat ini jangankan hukuman yang diterima maling itu. Tapi masalah siapa yang memalingkan pun tidak pernah jelas dan tidak pernah tuntas. Karena mereka bekerja hanya untuk duit, untuk politik, untuk popularitas, dan untuk segala-galanya yang menguntungkan. Mereka bekerja bukan untuk panggilan suara hati, bukan untuk amanah rakyat, bukan untuk agama, dan bukan untuk Negara. Tapi mereka adalah bagian dari penghacur dan pengkhianat Negara.

Semoga masih ada sebagian orang-orang disana yang bekerja dengan suara hati dan takut akan Tuhan. Karena sudah pasti, suatu saat nanti ada pengadilan yang tak dapat dibantahkan, yaitu pengadilan Tuhan. Semua apa yang terjadi ditimbang dengan seadil-adilnya. Maka hukuman neraka jahanam yang kekalpun sudah menanti. Karena mereka sudah berani mempermainkan hukum Allah, sudah berani bermain bersumpah di Kitab suci, dan bahkan ada yang berani sebagai murtad. Tapi ingat, neraka jahanam sedang menunggu jika itu pembohongan.

Ditulis Oleh : Misriadi Mahdi

Read more...

Thursday, December 10, 2009

Mungkin Lebih dan Bisa Masih kurang 5 Milyar Buat Pansus Century

Masalah century memang menjadi perhatian publik saat ini. Ketidakjelasan kasus ini pula yang menjadikan suhu politik Indonesia semakin memanas. Topik century tak hanya dibicarakan oleh kalangan politikus ataupun pemerintah saja, masyarakat awam pun tak mau ketinggalan, mulai dari mahasiswa, politik kedai kopi, jalanan, bahkan ibu rumah tangga ikut mengikuti kasus century. Hemat kata, semua elemen bangsa (publik) ikut menyorot permasalahan century.

Permasalahan ini memang sungguh aneh, dimana uang simpanan di Bank hilang begitu saja dan tidak tau entah kemana. Apakah Bank century punya hantu atau tuyul yang bisa mencuri uang? aneh, tapi ini nyata. Karena, masyarakat menganggap hanya bank-lah bagian yang dipercaya untuk menyimpan uang yang aman. Tapi apa benar? kalau itu terjadi sebaliknya.

Akibat perampokan bank itu, maka dikucurkanlah dana 6,7 Trilyun dengan alasan penyelamatan Bank Century dalam menghadapi krisis global. Yang anehnya, begitu besar sekali dan berbeda sebagaimana diputuskan di persidangan yang hanya mengucurkan Rp 630 miliar.

Sungguh mengherankan semua pihak, tak terkecuali para pengambil keputusan pun merasa kaget, ketika putusan dana penyelamatan itu berbeda dari yang ditetapkan. Yg paling Ekstrim rapat pengucuran dana ini tidak diketahui oleh JK sebagai orang pertama di negeri ini (Karena SBY sedang diluar negeri, maka JK sebagai pengganti seharusnya). Ini berarti ada sesuatu dibalik pengucuran, karena sembunyi dan tidak dilaporkan ke orang yang seharusnya mengetahui pengucuran itu.

Laporan hasil audit investigasi Badan Pemeriksaan Keuangan secara tegas menyebutkan adanya pelanggaran dalam penyelamatan bank Century. Antara lain tidak layaknya Bank Century untuk mendapatkan fasilitas pinjaman jangka pendek, karena rasio kecukupan modal sudah negatif, padahal peraturan Bank Indonesia yang diubah mengharuskan CAR dari bank yang berhak mendapatkan fasilitas itu harus positif. Selain itu juga langkah penyertaan modal sementara yang dilakukan LPS, yang dilakukan tanpa verifikasi terhadap aset-aset Bank Century.

Alasan dari para pengambil keputusan,ketika keputusan tersebut diambil keadaannya sudah sangat genting. Yang dipertaruhkan adalah kepercayaan terhadap sistem perbankan dan itu menyangkut dana Rp 1.500 triliun milik masyarakat yang disimpan di bank.

Bukan hanya keanehan yang terjadi dalam kasus ini, tapi korban pun ikut tergelincir. Mulai dari melakukan aksi bunuh diri, stress, gila, sakit, jantungan, struk, bahkan mati karena tidak ada biaya untuk melakukan operasi ketika keluarganya sakit. Miris, tapi inilah akibat century, hilang tiada jejak, bagai hantu dan tuyul yang ada di dalamnya.

Akibat adanya sekian banyak yang menjadi korban, maka publik menjadi empati kepada korban tersebut, dan pada akhirnya menjadi sorotan publik. Korban yang terkena bukan saja pengusaha, namun para karyawan biasa, bahkan hingga masyarakat kecil sebagai penjual gorengan pikulan selama 30 tahun, juga menjadi korban oleh bank tersebut.

Karena perhatian publik, maka pemerintah takut dengan tuntutan, maka dibuat pula Pansus untuk menyatakan kegegehannya atas kasus century. Padahal, sebelum ada tekanan dan sorotan media, kasus ini senyap tak mencuat, dan pastinya tidak ada partisipasi pemerintah untuk mengusut kasus century. Ketika ada desakan, barulah pansus dibuat dengan setengah hati.

Kita tentu tidak mau dianggap sebagai kerbau bajak, atau kuda. Yang mana baru mau bekerja ketika dicambuk. Tapi inilah yang kita lihat di Indonesia, pejabat public baru mau bekerja ketika ada desakan, pukulan atau tekanan public. Seharusnya mereka bekerja berdasarkan fungsinya, dan tau apa tugasnya di kursi jabatan itu.

Apakah pansus ini sarat dengan politik atau tidak, tapi kita cukup ada secuil kelegaan bahwa pemerintah mulai tiarap yang tadinya tidur-tiduran untuk mengusutnya. Apakah sebatas itu, atau hanya topeng belaka, atau gagah-gagahan saja, kita sedang menunggu semuanya.

Yang menjadi sorotan terbaru dalam century adalah masalah dana yang dikeluarkan dalam mengusut kasus Century. Dimana dana yang dibutuhkan sekitar 5 Miliar rupiah atau bahkan mungkin lebih.

Ketua Pansus Bank Century dari Fraksi Partai Demokrat, Yahya Sawirya, menuturkan di Gedung DPR/MPR, Jakarta, Kamis (10/12), “Pansus Bank Century ini membutuhkan anggaran sebesar Rp 5 miliar rupiah. Anggaran tersebut akan dipakai untuk persidangan, tenaga ahli, tim pendamping, saksi-saksi dari berbagai tempat, kunjungan lapangan dan rapat meraton”.

Dana yang paling besar dikeluarkan adalah untuk biaya akomodasi. Dengan alasan biaya perjalanan pemanggilan saksi-saksi ahli memerlukan akomodasi dan transportasi yang akurat. Sedangkan, gaji tim ahli perorangnya ditaksir mencapai Rp 7,5 juta/bulan, dengan diisi 10 tim ahli. Staf/Tim ahli tersebut akan diambil dari luar institusi DPR, supaya lebih independen.

Yahya juga mengatakan, “jumlah itu masih tentatif, rapat pleno Senin 14 Desember mendatang, bisa saja berubah sesuai kesepakatan seluruh anggota Pansus. Jumlah tersebut adalah dana ancer-ancer pembiayaan untuk kegiatan Pansus. Usulan ini harus diserahkan kepada Pansus yang jumlahnya tiga puluh orang tersebut, kami (pimpinan) tidak bisa memutuskannya sendiri”.

Yang menjadi pemikiran, apakah pansus bisa memastikan ini berlangsung 2 bulan. Karena semua pekerjaan mesti ada target waktu yang ditetapkan dan dijalankan. Kalau molor, mungkin saja dana Pansus ini semakin membengkak. Maka uang rakyat, bukan semakin dikembalikan, sebaliknya hilang untuk membiayai pekerjaan yang belum tentu kejelasannya.

Seperti dikatakan wakil ketua pansus lainnya, Mahfudz Siddiq, bahwa anggaran Rp 5 miliar merupakan STANDAR MINIMAL pansus. "Dari pengalaman pansus-pansus yang lalu, itu termasuk minim," kata Mahfudz. Dana sebesar itu dianggarkan untuk empat bulan masa kerja, sebagai antisipasi perpanjangan waktu kerja apabila pansus belum dapat menyelesaikan tugasnya selama dua bulan pertama.
Dari penjelasan tersebut, tidak adanya kepastian penyelidikan, soal dana saja, Pansus sudah memperkirakan untuk dana 4 bulan, apakah tim yang cendikiawan itu tidak bisa bekerja pada target waktu.

Belajar dari pengalaman di negeri ini, semakin lama suatu kasus dibiarkan berlangau, maka makin banyak sabotase, rekayasa, atau ketidakbenarannya. Sehingga, bukti sangat sulit ditemukan, atau hanya bukti buatan. Akibatnya, masuklah bau-bau politik busuk yang akan menghibak dalam permainan tersebut.

Yang jelas, dana 5 Milyar yang merupakan uang rakyat akan dikucurkan buat pansus century. Apakah dana ini bertambah atau berkurang, itu tak ada kejelasan dan kepastian. Tapi kita mencermati dari perkataan ketua itu, ada kemungkinan lebih besar ada kemungkinan berkurang. Kalau berkurang tidak mungkin, karena kebiasaan kita, kalau sudah memegang uang, sulit mau mengembalikannya. Dibuat jumlah dana, baru dibuat list kegiatan, memaksa-maksa biar dana kegiatan dipas-paskan biar sampai dari yang sudah ditetapkan.

Dalam bahasa Inggris kata Jika (If) adalah kata antonym dari kalimat sesungguhnya, artinya tidak benar dari apa yang diucap. Telaah saja kata-kata berikut yang dituturkan "JIKA dana tersebut berlebih dan bersisa, maka otomatis akan dikembalikan," ujar Mahfudz. Ia menambahkan, pansus langsung mematok anggaran untuk empat bulan masa kerja dengan resiko kelebihan dana, karena lebih mudah untuk mengembalikan kelebihan anggaran ketimbang mengajukan tambahan anggaran bila ternyata pansus kekurangan dana di tengah proses angket. Ditambahkan pula mencoba untuk memberikan pernyataan membandingkan “Pansus angket DPT dan BBM dulu bahkan menghabiskan dana di atas 5 miliar," kata Mahfudz.

Yang dilakukan pansus ini, bukan untuk mencari siapa dalang, bukan untuk menahan siapa, karena tidak ada kewenangan. Yang dikerjakan pansus ini adalah, sejauh mana besarnya aset-aset Century dan mempelajari data-data yang sudah tersedia dari audit BPK, bukan melakukan penyelidikan. Dalam mengusut permasalahan ini, bukan berdasarkan saksi/kata orang, tapi yang menjadi dasar adalah data BPK, data pengembangan, atau lebih ditegaskan data-data fakta yang ada. Apa benar data kebenaran itu masih ada?. Bank Indonesia saja, tidak bisa mengeluarkan list-list, kemana Bank Century itu dilarikan dan dikeluarkan. Semoga masih, harapan begitu, atau data yang sudah diamankan.

Yang jelas tugas pansus ini hanya memepelajari data yang sudah disediakan oleh BPK atas asset-aset yang dimiliki Bank Century. Untuk mempelajari data ini dibutuhkan 5 Milyar, karena walaupun ada pengembangan (memanggil saksi atau kata saksi), semuanya tidak dijadikan patokan, kata salah seorang ketua Pansus dalam wawancara di salah satu radio nasional.

Sekarang rakyat sangat berharap penuh kepada Pansus menangani kasus century. Dengan harapan, saat ini rakyat memiliki sentiment yang tinggi terhadap pejabat, penegak hokum, atau instansi public. Hendakny Pansus juga bisa menjaga kesensitifan rakyat yang sedang mengalami krisis kepercayaan.

Sebelumnya, kita mengucapkan selamat bekerja Pansus. Rakyat sedang memberi kepercayaan, namun jangan menyimpang dari harapan rakyat, karena bukan saja ketidakpercayaan itu makin terkikis terhadap MPR, namun juga bisa berakibat ke seluruh penegak hokum dan instansi public.

Jangan sampai rakyat berjalan sendiri-sendiri karena ketidakpercayaan itu. Karena juga berdampak akan munculnya pengadilan publik, maka anarkispun akan bukan tidak mustahil terjadi di seluruh tanah air. Masyarakat terlalu muak melihat ini semua, kesabaran rakyat juga ada batasnya. Jangan biarkan kemuakan itu meledak ke titik yang hebat, yang akhirnya kondisi ini bisa mengakibatkan kehancuran Negara, bahkan Negara ini bisa bubar. Tentunya itu tidak kita inginkan, karena Indonesia berdiri penuh perjuangan dan kehormatan atas darah rakyat.

Pansus harus mengungkap semua kebenaran itu. Jangan sampai rakyat semakin kecewa, jangan jadikan ini sebagai ranah politik busuk, jangan dijadikan pansus ini sebagai lahan uang, jangan jadikan pula sebagai kesempatan mencari popolaritas. Jadikan momentum ini untuk kepercayaan rakyat kepada pemerintah, jadikan panggilan hati sebagai anak bangsa yang ingin Negara ini maju, yang bebas dari korupsi, dan keadilan harus ditegakkan.

Selamat bekerja Pansus Century, selamat untuk bisa mengungkap kebenaran seterang-terangnya. Jangan menambah luka hati rakyat, jangan buat rakyat kecewa. Karena Pansus siap diadili massa kalau itu terjadi penyimpangan. Jangan sampai angket century sama dengan angket-angket lainnya, yang tidak tau hasil, dan keputusan. Yang miris, kasus angket sebelumnya tak pernah teruangakap akan hal apapun.

Congrutulation Pansus, rakyat selalu menyaksikan, selalu melihat, mendengar, mencermati, menganalisa, dan terus mengkritisi kasus century. Jangan lupa, rakyat sedang menunggu..!!!!!

Ditulis Oleh : Misriadi Mahdi

Read more...

Kantin Kejujuran Bagian dari Pembelajaran Antikorupsi

Yg terjadi di SMP 6 Jakarta atau SMA 1 Jakarta, merupakan salah satu sekolah yang menerapkan “Kantin Kejujuran”. Hingga saat ini, sekolah-sekolah di tanah air sudah begitu banyak yang menerapkan kantin kejujuran. Bukan hanya Jakarta, hampir di semua propinsi sudah mulai mendirikannya dengan menggandeng kerja sama pemerintahan untuk menerapkan kantin kejujuran.

Biasanya kantin merupakan tempat jualan berbagai kebutuhan makanan anak sekolah/kampus yang dijaga oleh penjualnya. Tapi di kantin ini malahan tidak berpenjaga dan hanya terdiri atas makanan yang disertai label harga.

Guru di sekolah tersebut, memang mengaku bahwa di awal bukanya kantin kejujuran mengalami kerugian. Namun dengan semakin adanya kesadaran moral yang tumbuh dari siswa/i sekolah itu sendiri, semakin lama semakin berkurang, hingga selisihnya hanya Rp 3.000 rupiah dari penjualan.

Dalam arti bergerak semakin lebih baik, hingga akhirnya kantin ini sudah mampu berdiri selama hampir 1 tahun. Di sekolah ini pula, semakin adanya keoptimisan untuk menumbuhkan prilaku jujur para pelajarnya, sekarang sekolah ini malahan sudah membuat “Laborotium Kejujuran”.

Kantin ini diharapkan para pelajar dapat membiasakan hidup jujur, yang merupakan langkah awal pelajaran sejak dini untuk menuju masa depan yang lebih baik, mengembangkan budaya malu, memupuk sifat jujur, demi menangkal korupsi sejak usia dini, walau tidak dilihat orang. Inilah yang mengawali masyarakat kita nantinya bisa menjadi manusia jujur, yang akhirnya juga tidak melakukan korupsi.

Upaya pencegahan dan pendidikan antikorupsi sebenarnya bukan hanya tanggung jawab pemerintah dan lembaga penegak hukum, tetapi semua masyarakat bertanggung jawab terhadap upaya pendidikan dan upaya pencegahan itu. Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal diharapkan pula untuk memberikan pendidikan secara dini terhadap generasi bangsa yang pada masa-masa mendatang akan mengambil posisi penting dalam pembangunan bangsa dan negara.

Budaya jujur memang harus ditanamkan sejak usia dini. Kejujuran itu harus tumbuh dari dalam hati. Dengan harapan, kedepan generasi yang ditempa melalui budaya jujur di kantin kejujuran, bisa membangun peradaban dengan kejujuran. Memang tidak ada salahnya menerapkan hidup jujur, karena “Kejujuran adalah Mata Uang yang Berlaku di Negara mana pun”.

Ditulis Oleh : Misriadi Mahdi

Read more...

Saturday, December 5, 2009

Indonesia Daftar Liga FIFA 2022

Kali ini mau nulis tentang bola kaki dulu. Walau gak suka dengan olah raga ini, tapi sekali-kali juga suka dengar-dengar topik bola kaki, kayaknya malu-malu kucing gitu deh ngakuin ngikutin bola kaki, tapi gengsian gitu, hehehe, maklum bola kaki di Indonesia masih belum dewasa permainannya. Ya sudah, saya makan kue dulu ya... ntar disambung lagi nulisnya (40 menit). Teng neng....selesai makannya, tulis aja deh sebagai informasi buat teman-teman blogger sebagai informasi, agar tidak ketinggalan.

Kabarnya Indonesia akan mendaftarkan diri sebagai tuan rumah dalam liga FIFA world cup pada 2022 dengan mengusung tema "Green world cup" alias bola dunia hijau, taik kerbau kali hijau,,,heheheh. Eh..eh..eh..gak boleh gitu, serius lagi ah. Tentunya diharapkan bahwa piala dunia 2022 (jika Indonesia terwujud menjadi tuan rumah) akan menjadikan piala dunia yang ramah lingkungan yang dapat memberikan sesuatu bagi planet ini. Namun kenyataannya benarkah peluang Indonesia menjadi tuan rumah piala dunia seindah tema piala dunia tahun 2022 yang diajukan PSSI??

Mungkin-mungkin saja sih Indonesia jadi tuan rumah. Tahun 2007, FIFA mengganti peraturan rotasi atau perputaran tuan rumah piala dunia. Sebelumnya, piala dunia selalu digilir selang seling antara negara-negara Eropa dan negara-negara non-Eropa. Agar perputaran lebih merata maka sejak 2007 FIFA merubah peraturan perputaran atau penggiliran tuan rumah piala dunia. Negara-negara yang boleh mendaftar menjadi tuan rumah piala dunia tidak boleh berasal dari benua yang sama dengan negara-negara yang sudah menjadi tuan rumah piala dunia sebelumnya dan yang sebelumnya lagi. Contoh: Jerman sudah menjadi penyelenggara Piala Dunia 2006 lalu, maka seluruh negara-negara Eropa dilarang mendaftar menjadi calon tuan rumah piala dunia 2010 dan 2014. Afrika Selatan yang menjadi tuan rumah piala dunia 2010, maka seluruh negara-negara Afrika dilarang mendaftar menjadi calon tuan rumah piala dunia 2014 dan 2018. Sedangkan Brasil yang akan menjadi tuan rumah piala dunia 2014, menjadikan seluruh negara-negara Amerika Selatan dilarang untuk mendaftar menjadi tuan rumah piala dunia 2018 dan 2022. Begitu seterusnya.

Intinya, di Asia Tenggara belum pernah dijadikan tempat tuan rumah. Tapi kita balik mikir, apa mungkin Indonesia dipilih dibandingkan dengan negara malaysia, singapura, vietnam, atau negara asia lainnya seperti korea, dan de el el nya. Terlalu berat untuk mengatakan terwujudnya, begitu banyak masalah negara ini, begitu banyak yang perlu dibenahi dalam birokrasi kita ini, tak terkecuali bidang sepak bola, yang sering kali dijadikan lahan uang.

Yang diperlukan untuk mewujudkan itu semua diperlukan orang-orang yang bernasionalisme tinggi, bukan menjadikan lahan uang bagi pengelolalnya. Adanya jaminan kelayakan hidup bagi pemainnya dan adanya kerja sama dan satu suara untuk menyatakan kegegehannya, mengantar Indonesia layak menjadi tuan rumah dan menjadi pemain berkelas dunia.

Ciptakanlah image positif di bidang olah raga bola kaki di Indonesia. Jangan ada lagi pemain-pemain yang asik mengejar wasit, jangan ada lagi perkelahian tiap pertandingan. Yang terpenting bagaimana mencipta pemain-pemain yang dewasa, yang mampu berpikir lebih maju dan penuh optimis keyakinan. Main bola kaki itu tak hanya otot yg kuat, bukan saja otak kosong melompong yang dipakai, tapi butuh strategi dan emulsion di otak untuk menyiapkan strategi (EQ).

Hem,,, harap-harap deh Indonesia mewujudkan itu semua. Moga Pak Malangeng bisa mengobarkan semangat pemuda-pemuda Indonesia untuk mencintai bidang olahraga bola kaki. Sehingga adanya keberlanjutan regenerasi yang mencintai bola kaki dan siap berdiri tegak di 2022 nanti, mengantarkan Indonesia menjadi negara yang layak dinobatkan "Indonesia juga bisa". Semoga...!!!

Untuk membaca berita ini, kunjungi blog pribadi saya di http://misriadi.blogspot.com/

Di tulis oleh : Misriadi Mahdi
Read more...

PUSTAKA KITA

> MISRIADI BLOG
> OKEZONE
> GAME ONLINE FULLY
> DETIK
> BLOG TARGET
> VIVA NEWS
> DESIGN BLOG
> BIRU BLOG
> LOGO BLOG
> BLOG BASIS BAHASA
> HTML BLOG
> SENIOR BLOG PANUTAN
free counters



website design