Showing posts with label politik. Show all posts
Showing posts with label politik. Show all posts

Saturday, December 19, 2009

Hasil KTT Konpenhagen Telah Diterima Menjadi Bagian yang Utuh

Dubai (18/12)- Presiden melakukan konfrensi pers langsung dari Dubai terkait masalah hasil KTT di Konpenhagen. Di sela-sela transit di Dubai menuju Tanah Air, SBY melakukan konfrensi pers terkait untuk menanggapi sejauh mana state yang telah dilakukan.

State baru diberikan ketika kofrensi sudah berakhir. Ini dengan tujuan, agar ada kejelasan tentang apa yang dihasilkan di KTT Kompenhagen, sesuai yang dikatakan SBY sebelumnya.

SBY mendapat laporan dari Mentri Luar negeri dan Ketua Delegasi Indonesia, menyebutkan bahwa; KTT Kompenhagen yang dilakukan 2 hari 2 malam yang dipersiapkan dengan melibatkan sejumlah kepala negara, mentri, maupun gubernur, sudah bisa disebutkan "telah diterima" dengan menjadikan bagian yang utuh.

SBY juga menyebutkan, yang mengembirakan bagi Indonesia, dalam point-point yang dibuat tidak ada yang terbuang, semua dimasukkan dan saling melengkapi.

Sebelumnya, rapat ini sebenarnya boleh dikatakan gagal, karena banyaknya hambatan-hambatan yang terjadi.
Hal inilah yang mendasari, muncul inisiatif sejumlah negara. Hambatan yang terjadi harus dibawa ke jalur resmi dan harus berada pada track yang formal.

Sehingga, di tahun 2010 nanti apa yang ingin dicapai dapat ditegakkan. KTT Konpenhagen harus membawa hasil, walau belum terlalu puas akan hasilnya.

Dalam penerapanya nanti, diharapkan adanya dana yang konkrit bagi Indonesia.Selain itu ,semua negara harus bisa melakukan dengan baik untuk semua keadaan, tak terkecuali negara maju ataupun negara berkembang. Semua harus dimonitoring, apakah dana itu digunakan dengan tepat atau tidak, ataupun apakah negara itu sudah menerapkan aturan itu secara konkrit, perlu dilakukan monitor.

Hingga, SBY melakukan konfrensi pers, walaupun sudah boleh dikatakan "telah diterima "masih dilakukan nego-nego kecil oleh para delegasi untuk menggali dan penyesuaian hal terkait kesepakatan yang telah diterima tersebut.

KTT Konferhagen bukan saja mementingkan hasil konfrensinya, namun juga untuk menyelamatkan negeri ini.

Mengenai tindak lanjut dari hasil KTT ini, ada 3 hal yang menjadi fokusan utama:
1. Tindak lanjut hasil Konfrensi ini, bisa lebih gamblang dan bisa menyiapkan kerangka yang lebih jelas untuk tahun 2011 nanti.
2. Mulai tahun 2010 nanti, Indonesia akan aktif dan akan memberikan yang terbaik.
3. Juga harus dilihat apa dampaknya bagi Indonesia.

Sehingga, Indonesia dapat membangun konsep dan terus melangkah. Dalam Kompenhagen ini, Indonesia juga ikut andil memberi rumusan.

SBY mengatakan ada 3 hal yang mesti diperhatikan secara lebih prioritas. Diantaranya adalah; kebijakan, teknologi yang dipakai, dan prilaku masyarakat.

Sehingga gubernur nantinya, harus menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk melakukan gerakan hasil konfrensi nanti dijadikan sebagai "Gerakan Nasional".

Ditulis Oleh : Misriadi Mahdi
Read more...

Friday, December 18, 2009

KTT Compenhargen Sulit Kata Sepakat, Karena Masalah Negara Maju

Compenhargen Internasional (Jumat, 18/12) - Negara-negara maju (China dan AS) sangat sulit untuk mencapai kata sepakat dalam pertemuan KTT di Compenhargen, Denmark. Hal ini, para negara maju menginginkan pendekatan pengurangan emisi berdasarkan kemampuan, kesanggupan dan kesiapan masing-masing negara sendiri. Hal inilah yang menjadi sulitnya mencapai titik temu.

Alasan negara maju untuk membuat usulan pendekatan tersebut adalah " karena ekonominya sangat sulit untuk mengurangi hal emisi ". Selain itu, negara-negara maju sebelumnya tidak bisa memenuhi pengurangan emisi sesuai kesepakatan yang sudah ditetapkan. Sehingga, target-target sebelumnya menumpuk dan harus menambah target-target dengan peraturan berikutnya, inilah yang menjadi sulit negara-negara maju untuk memenuhi kata sepakat di KTT Compenhargen.

Memang, jika diserahkan pada negara maju sangat sulit mencapai kata sepakat. Karena negara-negara maju biasanya sangat banyak memiliki Industri yang menyebakab semakin tinggi pula emisi yang terjadi. Jadi, sangat sulit untuk dapat menurunkan suhu bumi di bawah 2 derajat celsius.

Alasan lain negara maju mengusulkan untuk membuat keputusan berdasarkan pendekatannya adalah " karena ekonominya sangat sulit untuk mengurangi hal emisi tersebut". Negara maju sangat bergantung pada Industri untuk memenuhi pertumbuhan ekonominya.

Sebaliknya, negara-negara maju berjanji akan membiayai negara-negara miskin dan berkembang (Indonesia) terkait untuk pengurangan emisi.

Kekhawatiran yang terbenak, negara maju terus melakukan pembangunan ekonomi dan menumbuhkan berbagai Industri. Senantiasa negara berkembang (Indonesia) tidak bisa menumbuhkan ekonominya di bidang Industri, karena tertekan dengan peraturan emisi.

Semoga, dengan diputuskannya kesepakatan KTT nanti, diharapkan semua mampu menerapkan kesepakatan bersama itu secara intentif sesuai komitmen rapat. Jangan Indonesia saja yang menuruti kesepakatan itu, tapi semua negara!!!.

Ditulis Oleh : Misriadi Mahdi

Read more...

Budiono dan Sri mulyani tidak perlu non aktif

Compenhargen (Jumat, 18/12) - Pada malam ini SBY menanggapi issu mengenai perlu atau tidaknya penonaktifan Srimulyani dan Budiono langsung dari compenhargen.

SBY mengatakan, bahwa Wakil Presiden Budiono dan Menkeu Srimulyani tidak perlu non aktif, selagi masih bisa memenuhi pemanggilan Pansus tersebut.

Sebelum melakukan konnfrensi pers, SBY juga terlebih dahulu meminta perndapat kedua orang tersebut terkait ” apakah mereka menyanggupi dan tetap bisa melakukan tugasnya secara kooporatif. Keduanya mengatakan, menyannggupi untuk menjalankan kedua-duanya dan sanggup memenuhi pemanggilan Angeket Pansus Century.

Istilah non aktif atau pemberhentian sementara itu sama saja melanggar Undang-undang, karena di dalam undang-undang hanya mengatur tentang pemberhentian dan pengangkatan. Dalam UU no 39 tentang Kementrian Negara, seorang baru dapat diberhentikan jika dalam status terdakwa, sebaliknya kedua terkait tidaklah dalam artian tersebut, dalam penggunaan hak angket.

SBY mengatakan Budiono dan Srimulyani tidak perlu non-aktif, selagi bisa menjalankan tugas keduanya dengan baik. Hal ini mendasar, karena kegitan Negara tidak boleh terganggu. Kegiatan 100 hari harus berjalan jika tidak, berarti dapat mengganggu kepentingan rakyat.

Demi tegaknya institusi dan bernegara, sehingga tidak mau ada hal-hal yang dapat merusak tatanan bernegara.Semua itu harus diterapkan berdasarkan rule yang ditetapkan jika memang mau menerapkan kematangan dalam berdemokrasi.

SBY berharap, Pansus harus bisa objektif, rasional dan dapat menjalankan tugasnya. Semua itu, hendaknya Pansus harus bisa bersikap proporsional dan akuntabel dan semua harus bisa dipertanggungjawabkan.

Budi dan Sri mulyani tidak perlu non aktif, selagi bisa menjalankan tugasnya. Agar Negara ini bisa menuju masa depan yang lebih baik.

Ditulis Oleh : Misriadi Mahdi



Read more...

Thursday, December 17, 2009

Rapat Internal Penonaktifan Sejumlah Pejabat Tinggi

Jakarta (Kamis,17/12) - Rapat Internal penon-aktifan sejumlah pejabat tinggi sudah diputuskan. Rapat tersebut melakukan lobi selama kurang lebih setengah jam dan semua fraksi sudah menyetujuinya tanpa kesulitan dalam pemutusan.

Dalam Rapat Internal tersebut, melakukan rumusan konsep-konsep yang dibutuhkan pada saat penyelidikan nanti. Selain itu Idrus Marham (Ketua Pansus) mengatakan, saksi-saksi yang terlibat yang disebutkan oleh BPK, agar mereka sadar diri untuk mengundurkan diri dari jabatannya.

Selain itu dalam rapat internal ini juga menentukan saksi-saksi mana saja yang bisa aktif, dan saksi mana pula yang perlu non-aktif.

Penonaktifan sejumlah pejabat tinggi dilakukan agar tidak terganggu proses penyelidikan dan tugas negara. Selain itu, agar pekerjaan Pansus dapat lebih optimal.

Angket Century ini akan diupayakan sesuai dengan harapan semua orang. Karena memang angket ini berbeda dengan angket sebelumnya. Angket Century didukung oleh 500 anggota, 9 fraksi, serta mendapat perhatian publik.

Disebutkan oleh salah seorang anggota Pansus, "yang jelas Gubernur Bank Indonesia (BI) Budiono dan Menkue Srimulyani, pasti akan dipanggil.

Ditulis Oleh : Misriadi Mahdi

Read more...

Sunday, December 13, 2009

Menghitung Hukum Maling 6,7 Trilyun

Masalah negeri ini memang tidak pernah tuntas. Tanah air ini memang tak luput dari permasalahan, memang sudah biasa di setiap Negara punya masalah. Yang menjadi terheran-heran negeri Indonesia bukan soal masalahnya, tapi mengenai permasalahan yang terjadi itu tak pernah terselesaikan, alias tak pernah berakhir dengan “Happy Ending”.

Semua permasalahan yang terjadi memang tidak pernah mempunyai akhir. Semua permasalahan itu adalah jalan yang tak berujung, dan hingga menghilang tak bertitik di kasat mata. Semua permasalahan yang terjadi hanya selesai dengan ditiban dengan permasalahan baru yang lebih besar. Konspirasi saat ini, akan berkahir ketika datang konspirasi yang lebih besar, bukan hilang karena solusi dan penyelesaian.

Begitu banyak dan rata-rata semua kasus di Indonesia tak pernah berakhir seperti yang diharapkan rakyat. Menilik kejadian yang berlalu, masalah BLBI, hilang ketika dana itu berputar di luar negeri dan tak bisa kembali, masalah Buaya dan Cicak hilang karena rekaman anggodo, masalah anggodo hilang ketika muncul masalah dana kucuran 6,7 trilyun, masalah 6,7T hilang ketika muncul masalah politik terbuka ical-srimulyani, masalah politik terbuka hilang ketika saling lapor, dan begitu seterusnya berturut-turut mengalahkan masalah lama dengan munculnya masalah yang lebih besar. Miris, bimbang, khawatir, ketika negeri ini tak pernah ada akhir dan penyelesaian yang memuaskan. Semua masalah hanya selesai ketika masalah yang baru jauh lebih besar daripada masalah sebelumnya. Itulah yang terjadi di Indonesia, semua permasalahan yang terjadi “Never Happy Ending”.

Begitu mudahnya hukum di Indonesia dipermainkan, terutama bagi yang punya banyak duit. Semua bisa dibelikan, termasuk hukum. Lihat saja kasus demi kasus, sebenarnya bukan tidak mampu menyelesaikan, tapi tidak ada tekat untuk menyelesaikan. Semua pada kenyang, dan semua pada diam, bagai “ tikus yang jatuh di gunungan beras”. Tak mencicit bunyinya, takut ketauan, tapi merasa kenyang dapat makanan, sungguh memalukan cuma sama dengan seekor tikus yang menjijikkan.

Ketika keadilan itu tak pernah ada, sudah tiba saatnya rakyat membuat pengadilan sendiri. Ini semua terjadi karena tidak adanya kepercayaan lagi kepada penegak hukum. Kapan ini semua berakhir, kita tak pernah tau karena memang negeri ini tak pernah berakhir dalam menghadapi permasalahan.

Lihat saja kasus Prita Mulyasari. Ketika beliau melakukan curhat apa yang benar-benar dialaminya, justru tersungkur di bui. Memang bukan masalah kurungan 3 bulannya, tapi masalah moral hati ketika dia dicap sebagai narapidana. Cap itu tak semua bisa menerima, tapi itulah rakyat kecil hanya bisa menerima dengan kepasrahan. Karena memang rakyat kecil tak berhak mendapatkan hukum dan keadilan di negeri ini.

Lihat lagi masalah nenek minah yang tua rentan. Karena memetik 2 daun tembakau yang bernilai Rp 2 ribu, beliau dikenai hukuman 1,5 bulan. Padahal ini semua dilakukan nenek minah untuk bibit tanaman, dan tentunya tidaklah merusak tanaman yang ada. Tapi itu terjadi karena dilaporkan oleh orang yang punya banyak duit.

Apakah pernah ada rakyat miskin di negeri ini memenangi kasus di pengadilan, itu mustahil. Yang menang di pengadilan semuanya orang yang banyak duit, yang punya jabatan, yang punya segalanya. Memang kemiskinan adalah masalah krusial di negeri ini. Maka dari itu rakyat miskin sudah seharusnya berpangku untuk menumpas kemiskinan itu. Karena selamanya negeri ini akan menjadi negeri mainan orang berduit, selagi kebodohan dan kemiskinan masih merata di negeri ini.

Tak ada keadilan di negeri ini. Tapi kita sebagai rakyat jelata, sudah mulai bangkit dengan adanya hukum pengadilan rakyat sendiri. Ini bisa dilihat pada kasus prita, ketika dihadapi oleh rakyat, barulah hukum rakyat jelata itu bisa mendapat kabar gembira, kalau tidak ada gerakan dukung prita, maka prita siap menjadi makanan bagi OMNIvora.

Hukuman di negeri ini memang tak pernah seimbang, dan selalu berat sebelah. Sungguh berbeda sekali dari symbol pengadilan yang digambarkan sebuah timbangan dan tutup mata patung pengadilan. Apa kita harus membuka tutup mata patung itu, biar bisa melihat jelas apa yang terjadi sekarang ini.

Rakyat kecil cukup gampang diadili, senantiasa yang banyak duit sulit. Kasus nenek minah dan kasus Century kita lihat, ketika keadilan itu tak seimbang maka rakyat pun marah, maka sudah seharusnya pengadilan rakyat memberi keputusan karena kita sudah muak.

Kita hitung-hitung saja seberapa besar yang harus diberikan hukuman kepada maling 6,7 trilyun dengan perbandingan kasus nenek minah. Kenapa dibandingkan, karena memang hukum itu harus ditegakkan, harus seimbang, tak beda antara si miskin dan si kaya. Kita tuntut itu, karena jangan sampai beda hukumannya.

Berikut adalah hitungan yang pantas mereka terima yang memalingkan uang rakyat. Uang yang seharusnya menuntaskan kemiskinan di negeri ini.

Nenek Minah (miskin): Rp 2 ribu rupiah = 1,5 bulan

Maling negara (kaya) : Rp 6,7 trilyun = 5.025.000.000 bulan = 418.750.000 tahun= 4.187.500 abad.

Kalau sudah hitungannya berabad, maka mati dalam bui adalah yang tepat (alias hukuman mati).

Itulah hukuman yang harus dilakukan pengadilan, kalau memang benar-benar keadilan ditegakkan. Jangan bedakan antara si kaya dan si miskin. Karena pengadilan itu harus sama, tak ada tebang pilih, tak terkecuali rakyat miskin.

Tapi sayang, itu semua hitungan saja. Saat ini jangankan hukuman yang diterima maling itu. Tapi masalah siapa yang memalingkan pun tidak pernah jelas dan tidak pernah tuntas. Karena mereka bekerja hanya untuk duit, untuk politik, untuk popularitas, dan untuk segala-galanya yang menguntungkan. Mereka bekerja bukan untuk panggilan suara hati, bukan untuk amanah rakyat, bukan untuk agama, dan bukan untuk Negara. Tapi mereka adalah bagian dari penghacur dan pengkhianat Negara.

Semoga masih ada sebagian orang-orang disana yang bekerja dengan suara hati dan takut akan Tuhan. Karena sudah pasti, suatu saat nanti ada pengadilan yang tak dapat dibantahkan, yaitu pengadilan Tuhan. Semua apa yang terjadi ditimbang dengan seadil-adilnya. Maka hukuman neraka jahanam yang kekalpun sudah menanti. Karena mereka sudah berani mempermainkan hukum Allah, sudah berani bermain bersumpah di Kitab suci, dan bahkan ada yang berani sebagai murtad. Tapi ingat, neraka jahanam sedang menunggu jika itu pembohongan.

Ditulis Oleh : Misriadi Mahdi

Read more...

Sunday, November 15, 2009

Fakta di Balik Kriminalisasi KPK, dan Keterlibatan SBY

Halo all, untuk membaca berita ini, kunjungi blog pribadi saya di http://misriadi.blogspot.com/

Apa yang terjadi selama ini sebetulnya bukanlah kasus yang sebenarnya, tetapi hanya sebuah ujung dari konspirasi besar yang memang bertujuan mengkriminalisasi institusi KPK. Dengan cara terlebih dahulu mengkriminalisasi pimpinan, kemudian menggantinya sesuai dengan orang-orang yang sudah dipilih oleh “sang sutradara”, akibatnya, meskipun nanti lembaga ini masih ada namun tetap akan dimandulkan.

Agar Anda semua bisa melihat persoalan ini lebih jernih, mari kita telusuri mulai dari kasus Antasari Azhar. Sebagai pimpinan KPK yang baru, menggantikan Taufiqurahman Ruqi, gerakan Antasari memang luar biasa. Dia main tabrak kanan dan kiri, siapa pun dibabat, termasuk besan Presiden SBY.

Antasari yang disebut-sebut sebagai orangnya Megawati (PDIP), ini tidak pandang bulu karena siapapun yang terkait korupsi langsung disikat. Bahkan, beberapa konglomerat hitam — yang kasusnya masih menggantung pada era sebelum era Antasari, sudah masuk dalam agenda pemeriksaaanya.

Tindakan Antasari yang hajar kanan-kiri, dinilai Jaksa Agung Hendarman sebagai bentuk balasan dari sikap Kejaksaan Agung yang tebang pilih, dimana waktu Hendraman jadi Jampindsus, dialah yang paling rajin menangkapi Kepala Daerah dari Fraksi PDIP. Bahkan atas sukses menjebloskan Kepala Daerah dari PDIP, dan orang-orang yang dianggap orangnya Megawati, seperti ECW Neloe, maka Hendarman pun dihadiahi jabatan sebagai Jaksa Agung.

Setelah menjadi Jaksa Agung, Hendarman makin resah, karena waktu itu banyak pihak termasuk DPR menghendaki agar kasus BLBI yang melibatkan banyak konglomerat hitam dan kasusnya masih terkatung –katung di Kejaksaan dan Kepolisian untuk dilimpahkan atau diambilalih KPK. Tentu saja hal ini sangat tidak diterima kalangan kejaksaan, dan Bareskrim, karena selama ini para pengusaha ini adalah tambang duit dari para aparat Kejaksaan dan Kepolisian, khususnya Bareskrim. Sekedar diketahui Bareskrim adalah supplier keungan untuk Kapolri dan jajaran perwira polisi lainnya.

Sikap Antasari yang berani menahan besan SBY, sebetulnya membuat SBY sangat marah kala itu. Hanya, waktu itu ia harus menahan diri, karena dia harus menjaga citra, apalagi moment penahanan besannya mendekati Pemilu, dimana dia akan mencalonkan lagi. SBY juga dinasehati oleh orang-orang dekatnya agar moment itu nantinya dapat dipakai untuk bahan kampanye, bahwa seorang SBY tidak pandang bulu dalam memberantas korupsi. SBY terus mendendam apalagi, setiap ketemu menantunya Anisa Pohan , suka menangis sambil menanyakan nasib ayahnya.

Dendam SBY yang membara inilah yang dimanfaatkan oleh Kapolri dan Jaksa Agung untuk mendekati SBY, dan menyusun rencana untuk “melenyapkan” Antasari. Tak hanya itu, Jaksa Agung dan Kapolri juga membawa konglomerat hitam pengemplang BLBI [seperti Syamsul Nursalim, Agus Anwar, Liem Sioe Liong, dan lain-lainnya), dan konglomerat yang tersandung kasus lainnya seperti James Riyadi (kasus penyuapan yang melibatkan salah satu putra mahkota Lippo, Billy Sindoro terhadap oknun KPPU dalam masalah Lipo-enet/Astro, dimana waktu itu Billy langsung ditangkap KPK dan ditahan), Harry Tanoe (kasus NCD Bodong dan Sisminbakum yang selama masih mengantung di KPK), Tommy Winata (kasus perusahaan ikan di Kendari, Tommy baru sekali diperiksa KPK), Sukanto Tanoto (penggelapan pajak Asian Agri), dan beberapa konglomerat lainnya].

Para konglomerat hitam itu berjanji akan membiayai pemilu SBY, namun mereka minta agar kasus BLBI , dan kasus-kasus lainnya tidak ditangani KPK. Jalur pintas yang mereka tempuh untuk “menghabisi Antasari “ adalah lewat media. Waktu itu sekitar bulan Februari- Maret 2008 semua wartawan Kepolisian dan juga Kejaksaan (sebagian besar adalah wartawan brodex – wartawan yang juga doyan suap) diajak rapat di Hotel Bellagio Kuningan. Ada dana yang sangat besar untuk membayar media, di mana tugas media mencari sekecil apapun kesalahan Antasari. Intinya media harus mengkriminalisasi Antasari, sehingga ada alasan menggusur Antasari.

Nyatanya, tidak semua wartawan itu “hitam”, namun ada juga wartawan yang masih putih, sehingga gerakan mengkriminalisaai Antasari lewat media tidak berhasil.

Antasari sendiri bukan tidak tahu gerakan-gerakan yang dilakukan Kapolri dan Jaksa Agung yang di back up SBY untuk menjatuhkannya. Antasari bukannya malah nurut atau takut, justeru malah menjadi-hadi dan terkesan melawan SBY. Misalnya Antasari yang mengetahui Bank Century telah dijadikan “alat” untuk mengeluarkan duit negara untuk membiayai kampanye SBY, justru berkoar akan membongkar skandal bank itu. Antasari sangat tahu siapa saja operator –operator Century, dimana Sri Mulyani dan Budiono bertugas mengucurkan duit dari kas negara, kemudian Hartati Mudaya, dan Budi Sampurna, (adik Putra Sanpurna) bertindak sebagai nasabah besar yang seolah-olah menyimpan dana di Century, sehingga dapat ganti rugi, dan uang inilah yang digunakan untuk biaya kampanye SBY.

Tentu saja, dana tersebut dijalankan oleh Hartati Murdaya, dalam kapasitasnya sebagai Bendahara Paratai Demokrat, dan diawasi oleh Eddy Baskoro plus Djoko Sujanto (Menkolhukam) yang waktu itu jadi Bendahara Tim Sukses SBY. Modus penggerogotan duit Negara ini biar rapi maka harus melibatkan orang bank (agar terkesan Bank Century diselamatkan pemerintah), maka ditugaskan lah Agus Martowardoyo (Dirut Bank Mandiri), yang kabarnya akan dijadikan Gubernur BI ini. Agus Marto lalu menyuruh Sumaryono (pejabat Bank Mandiri yang terkenal lici dan korup) untuk memimpin Bank Century saat pemerintah mulai mengalirkan duit 6,7 T ke Bank Century.

Antasari bukan hanya akan membongkar Century, tetapi dia juga mengancam akan membongkar proyek IT di KPU, dimana dalam tendernya dimenangkan oleh perusahaannya Hartati Murdaya (Bendahara Demokrat). Antasari sudah menjadi bola liar, ia membahayakan bukan hanya SBY tetapi juga Kepolisian, Kejaksaan, dan para konglomerat , serta para innercycle SBY. Akhirnya Kapolri dan Kejaksaan Agung membungkam Antasari. Melalui para intel akhirnya diketahui orang-orang dekat Antasari untuk menggunakan menjerat Antasari.

Orang pertama yang digunakan adalah Nasrudin Zulkarnaen. Nasrudin memang cukup dekat Antasari sejak Antasari menjadi Kajari, dan Nasrudin masih menjadi pegawai. Maklum Nasrudin ini memang dikenal sebagai Markus (Makelar Kasus). Dan ketika Antasari menjadi Ketua KPK, Nasrudin melaporkan kalau ada korupsi di tubuh PT Rajawali Nusantara Indonesia (induk Rajawali Putra Banjaran). Antasari minta data-data tersebut, Nasrudin menyanggupi, tetapi dengan catatan Antasari harus menjerat seluruh jajaran direksi PT Rajawali, dan merekomendasarkan ke Menteri BUMN agar ia yang dipilih menjadi dirut PT RNI, begitu jajaran direksi PT RNI ditangkap KPK.

Antasari tadinya menyanggupi transaksi ini, namun data yang diberikan Nasrudin ternyata tidak cukup bukti untuk menyeret direksi RNI, sehingga Antasari belum bisa memenuhi permintaan Nasrudin. Seorang intel polsi yang mencium kekecewaan Nasrudin, akhirnya mengajak Nasrudin untuk bergabung untuk melindas Antasari. Dengan iming-iming, jasanya akan dilaporkan ke Presiden SBY dan akan diberi uang yang banyak, maka skenario pun disusun, dimana Nasrudin disuruh mengumpan Rani Yulianti untuk menjebak Antasari.

Rupanya dalam rapat antara Kapolri dan Kejaksaan, yang diikuti Kabareskrim. melihat kalau skenario menurunkan Antasari hanya dengan umpan perempuan, maka alasan untuk mengganti Antasari sangat lemah. Oleh karena itu tercetuslah ide untuk melenyapkan Nasrudin, dimana dibuat skenario seolah yang melakukan Antasari. Agar lebih sempurna, maka dilibatkanlah pengusaha Sigit Hario Wibisono. Mengapa polisi dan kejaksaan memilih Sigit, karena seperti Nasrudin, Sigit adalah kawan Antasari, yang kebetulan juga akan dibidik oleh Antasari dalam kasus penggelapan dana di Departemen Sosial sebasar Rp 400 miliar.

Sigit yang pernah menjadi staf ahli di Depsos ini ternyata menggelapakan dana bantuan tsunami sebesar Rp 400 miliar. Sebagai teman, Antasari, mengingatkan agar Sigit lebih baik mengaku, sehingga tidak harus “dipaksa KPK”. Nah Sigit yang juga punya hubungan dekat dengan Polisi dan Kejaksaan, mengaku merasa ditekan Antasari. Di situlah kemudian Polisi dan Kejaksaan melibatkan Sigit dengan meminta untuk memancing Antasari ke rumahnya, dan diajak ngobrol seputar tekana-tekanan yang dilakukan oleh Nasrudin. Terutama, yang berkait dengan “terjebaknya: Antasari di sebuah hotel dengan istri ketiga Nasrudin.

Nasrudin yang sudah berbunga-bunga, tidak pernah menyangka, bahwa akhirnya dirinyalah yang dijadikan korban, untuk melengserkan Antasari selama-laamnya dari KPK. Dan akhirnya disusun skenario yang sekarang seperti diajukan polisi dalam BAP-nya. Kalau mau jujur, eksekutor Nasrudin buknalah tiga orang yangs sekarang ditahan polisi, tetapi seorang polisi (Brimob ) yang terlatih.

Bibit dan Chandra. Lalu bagaimana dengan Bibit dan Chandra? Kepolisian dan Kejaksaan berpikir dengan dibuinya Antasari, maka KPK akan melemah. Dalam kenyataannya, tidak demikian. Bibit dan Chandra , termasuk yang rajin meneruskan pekerjaan Antasari. Seminggu sebelum Antasari ditangkap, Antasari pesan wanti-wanti agar apabila terjadi apa-apa pada dirinya, maka penelusuran Bank Century dan IT KPU harus diteruskan.

Itulah sebabnya KPK terus akan menyelidiki Bank Century, dengan terus melakukan penyadapan-penyadapan. Nah saat melakukan berbagai penyadapan, nyangkutlah Susno yang lagi terima duit dari Budi Sammpoerna sebesar Rp 10 miliar, saat Budi mencairkan tahap pertama sebasar US $ 18 juta atau 180 miliar dari Bank Century. Sebetulnya ini bukan berkait dengan peran Susno yang telah membuat surat ke Bank Century (itu dibuat seperti itu biar seolah–olah duit komisi), duit itu merupakan pembagian dari hasil jarahan Bank Century untuk para perwira Polri. Hal ini bisa dipahami, soalnya polisi kan tahu modus operansi pembobolan duit negara melalui Century oleh inner cycle SBY.

Bibit dan Chandra adalah dua pimpinan KPK yang intens akan membuka skandal bank Bank Century. Nah, karena dua orang ini membahayakan, Susno pun ditugasi untuk mencari-cari kesalahan Bibit dan Chandra. Melalui seorang Markus (Eddy Sumarsono) diketahui, bahwa Bibit dan Chandra mengeluarkan surat cekal untuk Anggoro. Maka dari situlah kemudian dibuat Bibit dan Chandra melakukan penyalahgunaan wewenang.

Nah, saat masih dituduh menyalahgunakan wewenang, rupanya Bibit dan Chandra bersama para pengacara terus melawan, karena alibi itu sangat lemah, maka disusunlah skenario terjadinya pemerasan. Di sinilah Antasari dibujuk dengan iming-iming, ia akan dibebaskan dengan bertahap (dihukum tapi tidak berat), namun dia harus membuat testimony, bahwa Bibit dan Chandra melakukan pemerasan.

Berbagai cara dilakukan, Anggoro yang memang dibidik KPK, dijanjikan akan diselsaikan masalahnya Kepolisian dan Jaksa, maka disusunlah berbagai skenario yang melibatkanAnggodo, karena Angodo juga selama ini sudah biasa menjadi Markus. Persoalan menjadi runyam, ketika media mulai mengeluarkan sedikir rekaman yang ada kalimat R1-nya. Saat dimuat media, SBY konon sangat gusar, juga orang-orang dekatnya, apalagi Bibit dan Chandra sangat tahu kasus Bank Century. Kapolri dan Jaksa Agung konon ditegur habis Presiden SBY agar persoalan tidak meluas, maka ditahanlah Bibit dan Chandra ditahan. Tanpa diduga, rupanya penahaan Bibit dan Chandra mendapat reaksi yang luar biasa dari publik maka Presiden pun sempat keder dan menugaskan Denny Indrayana untuk menghubungi para pakar hokum untuk membentuk Tim Pencari Fakta (TPF).

Demikian, sebetulnya bahwa ujung persoalan adalah SBY, Jaksa Agung, Kapolri, Joko Suyanto, dan para kongloemrat hitam, serta innercycle SBY (pengumpul duit untk pemilu legislative dan presiden). RASANYA ENDING PERSOALAN INI AKAN PANJANG, KARENA SBY PASTI TIDAK AKAN BERANI BERSIKAP. Satu catatan, Anggoro dan Anggodo, termasuk penyumbang Pemilu yang paling besar.

Jadi mana mungkin Polisi atau Jaksa, bahkan Presiden SBY sekalipun berani menagkap Anggodo!

Tautan ; Rina Dewreight


Read more...

Monday, July 20, 2009

Ramalan Mama Lourent Pasca Bom KUningan 2009

Ramalan Mama Lauren Terbaru 2009 Pasca Ledakan Bom JW Marriott. Beberapa media entertainment menayangkan ramalan Mama Lauren (ML) yang konon sudah "melihat" akan terjadinya ledakan bom JW Marriott. Beliau sudah memprediksi hal ini di tahun 2007! Selain itu di tahun tersebut juga peramal profesional ini yakin hal ini berkaitan dengan terpilihnya Presiden RI untuk kedua kalinya. Secara eksplisit dikatakan bahwa pelaku bom JW Marriott terkait dengan organisasi luar negeri, tapi dia tidak berani mengatakan secara gamblang siapa. Mungkin takut salah :)

Namun demikian, saat saya coba cari ke okezone tapi ga ketemu trus menuju Google, saya temukan blog sahabat yang menuliskan ramalan ML secara lengkap. Sayangnya saya tidak sempat ngecek tanggal berapa dipostingnya. Ternyata di ramalan tahun 2009, penglihatan beliau sedikit terhalang sehingga tragedi bom Ritz Carlton sama sekali tidak disebutkan lagi. Menarik ya :)

Kalau dibaca sampai akhir, ada ramalan paranormal Permadi yang sangat yakin bahwa pemilu 2009 tidak akan terwujud. Yang ini jauh lebih menarik :) Wong sekarang pemilihan sudah selesai dan berjalan lancar. Walaupun Presiden Indonesia 2009 yang terpilih belum dilantik.

Dari hasil wawancara Mama Lauren yang terbaru pasca peledakan bom, hanya sedikit hal yang beliau sampaikan. Malah bikin penasaran karena benar-benar bersifat sangat umum.

RAMALAN MAMA LAUREN:

POLITIK
- Terjadi pergolakan politik besar-besaran
- Dua politisi kawakan tewas terbunuh akibat akumulasi persaingan.

EKONOMI
- Banyak cobaan di sisi properti, pertambangan, perkebunan, penerbangan, perkapalan, dan perminyakan.
- Banyak perusahaan yang gulung tikar dan mem-PHK karyawannya.
- Investor di bisnis properti sebaiknya lebih bersabar.
- Bursa saham akan ditutup di beberapa negara termasuk Indonesia.
- Harga sandang dan pangan juga melonjak naik.

ENTERTAINMENT
- Wabah kawin cerai masih tetap marak.
- Tapi ada dua pasangan yang sudah bercerai akan rujuk kembali.
- Indonesia juga akan kehilangan tujuh bintang terkenal, yakni empat laki-laki dan tiga perempuan. Dua laki-laki dan satu perempuan di antaranya meninggal karena narkoba, dan empat orang lainnya karena sakit.

BENCANA
- Curah hujan terbesar akan terjadi pada Desember 2008 hingga Januari 2009.
- Musim pancaroba akan terjadi pada April dan Mei serta Oktober-November.
- Saat pancaroba ini, bisa terjadi badai dan petir.
- Gempa bumi juga terjadi di sejumlah wilayah yang akan memakan banyak korban jiwa dan materi.
- Juga akan terjadi gunung meletus.
- Waspadai kecelakaan pesawat terbang, kereta api, bus, dan kapal laut.
- Bencana banjir di DKI Jakarta juga tak bisa dielakkan.
- Banjir dan tanah longsor akan terjadi di daerah Jawa Barat.
- Gempa dan tanah longsor juga masih mengintai Sumatera Barat, Tapanuli bagian barat, dan Aceh bagian Barat. Sedangkan air laut yang pasang akan mengalir menuju sungai-sungai di Kalimantan.

Selain Mama Lauren, Paranormal yang juga anggota DPR, Permadi menyampaikan ramalannya di tahun 2009:

POLITIK
- Terjadi kekacauan politik.
- Pemilu 2009 tak akan terwujud.

EKONOMI
- Akan terus mengalami keterpurukan karena keberpihakan pada kepentingan asing.
Read more...

PUSTAKA KITA

> MISRIADI BLOG
> OKEZONE
> GAME ONLINE FULLY
> DETIK
> BLOG TARGET
> VIVA NEWS
> DESIGN BLOG
> BIRU BLOG
> LOGO BLOG
> BLOG BASIS BAHASA
> HTML BLOG
> SENIOR BLOG PANUTAN
free counters



website design