Thursday, December 10, 2009

Mungkin Lebih dan Bisa Masih kurang 5 Milyar Buat Pansus Century

Masalah century memang menjadi perhatian publik saat ini. Ketidakjelasan kasus ini pula yang menjadikan suhu politik Indonesia semakin memanas. Topik century tak hanya dibicarakan oleh kalangan politikus ataupun pemerintah saja, masyarakat awam pun tak mau ketinggalan, mulai dari mahasiswa, politik kedai kopi, jalanan, bahkan ibu rumah tangga ikut mengikuti kasus century. Hemat kata, semua elemen bangsa (publik) ikut menyorot permasalahan century.

Permasalahan ini memang sungguh aneh, dimana uang simpanan di Bank hilang begitu saja dan tidak tau entah kemana. Apakah Bank century punya hantu atau tuyul yang bisa mencuri uang? aneh, tapi ini nyata. Karena, masyarakat menganggap hanya bank-lah bagian yang dipercaya untuk menyimpan uang yang aman. Tapi apa benar? kalau itu terjadi sebaliknya.

Akibat perampokan bank itu, maka dikucurkanlah dana 6,7 Trilyun dengan alasan penyelamatan Bank Century dalam menghadapi krisis global. Yang anehnya, begitu besar sekali dan berbeda sebagaimana diputuskan di persidangan yang hanya mengucurkan Rp 630 miliar.

Sungguh mengherankan semua pihak, tak terkecuali para pengambil keputusan pun merasa kaget, ketika putusan dana penyelamatan itu berbeda dari yang ditetapkan. Yg paling Ekstrim rapat pengucuran dana ini tidak diketahui oleh JK sebagai orang pertama di negeri ini (Karena SBY sedang diluar negeri, maka JK sebagai pengganti seharusnya). Ini berarti ada sesuatu dibalik pengucuran, karena sembunyi dan tidak dilaporkan ke orang yang seharusnya mengetahui pengucuran itu.

Laporan hasil audit investigasi Badan Pemeriksaan Keuangan secara tegas menyebutkan adanya pelanggaran dalam penyelamatan bank Century. Antara lain tidak layaknya Bank Century untuk mendapatkan fasilitas pinjaman jangka pendek, karena rasio kecukupan modal sudah negatif, padahal peraturan Bank Indonesia yang diubah mengharuskan CAR dari bank yang berhak mendapatkan fasilitas itu harus positif. Selain itu juga langkah penyertaan modal sementara yang dilakukan LPS, yang dilakukan tanpa verifikasi terhadap aset-aset Bank Century.

Alasan dari para pengambil keputusan,ketika keputusan tersebut diambil keadaannya sudah sangat genting. Yang dipertaruhkan adalah kepercayaan terhadap sistem perbankan dan itu menyangkut dana Rp 1.500 triliun milik masyarakat yang disimpan di bank.

Bukan hanya keanehan yang terjadi dalam kasus ini, tapi korban pun ikut tergelincir. Mulai dari melakukan aksi bunuh diri, stress, gila, sakit, jantungan, struk, bahkan mati karena tidak ada biaya untuk melakukan operasi ketika keluarganya sakit. Miris, tapi inilah akibat century, hilang tiada jejak, bagai hantu dan tuyul yang ada di dalamnya.

Akibat adanya sekian banyak yang menjadi korban, maka publik menjadi empati kepada korban tersebut, dan pada akhirnya menjadi sorotan publik. Korban yang terkena bukan saja pengusaha, namun para karyawan biasa, bahkan hingga masyarakat kecil sebagai penjual gorengan pikulan selama 30 tahun, juga menjadi korban oleh bank tersebut.

Karena perhatian publik, maka pemerintah takut dengan tuntutan, maka dibuat pula Pansus untuk menyatakan kegegehannya atas kasus century. Padahal, sebelum ada tekanan dan sorotan media, kasus ini senyap tak mencuat, dan pastinya tidak ada partisipasi pemerintah untuk mengusut kasus century. Ketika ada desakan, barulah pansus dibuat dengan setengah hati.

Kita tentu tidak mau dianggap sebagai kerbau bajak, atau kuda. Yang mana baru mau bekerja ketika dicambuk. Tapi inilah yang kita lihat di Indonesia, pejabat public baru mau bekerja ketika ada desakan, pukulan atau tekanan public. Seharusnya mereka bekerja berdasarkan fungsinya, dan tau apa tugasnya di kursi jabatan itu.

Apakah pansus ini sarat dengan politik atau tidak, tapi kita cukup ada secuil kelegaan bahwa pemerintah mulai tiarap yang tadinya tidur-tiduran untuk mengusutnya. Apakah sebatas itu, atau hanya topeng belaka, atau gagah-gagahan saja, kita sedang menunggu semuanya.

Yang menjadi sorotan terbaru dalam century adalah masalah dana yang dikeluarkan dalam mengusut kasus Century. Dimana dana yang dibutuhkan sekitar 5 Miliar rupiah atau bahkan mungkin lebih.

Ketua Pansus Bank Century dari Fraksi Partai Demokrat, Yahya Sawirya, menuturkan di Gedung DPR/MPR, Jakarta, Kamis (10/12), “Pansus Bank Century ini membutuhkan anggaran sebesar Rp 5 miliar rupiah. Anggaran tersebut akan dipakai untuk persidangan, tenaga ahli, tim pendamping, saksi-saksi dari berbagai tempat, kunjungan lapangan dan rapat meraton”.

Dana yang paling besar dikeluarkan adalah untuk biaya akomodasi. Dengan alasan biaya perjalanan pemanggilan saksi-saksi ahli memerlukan akomodasi dan transportasi yang akurat. Sedangkan, gaji tim ahli perorangnya ditaksir mencapai Rp 7,5 juta/bulan, dengan diisi 10 tim ahli. Staf/Tim ahli tersebut akan diambil dari luar institusi DPR, supaya lebih independen.

Yahya juga mengatakan, “jumlah itu masih tentatif, rapat pleno Senin 14 Desember mendatang, bisa saja berubah sesuai kesepakatan seluruh anggota Pansus. Jumlah tersebut adalah dana ancer-ancer pembiayaan untuk kegiatan Pansus. Usulan ini harus diserahkan kepada Pansus yang jumlahnya tiga puluh orang tersebut, kami (pimpinan) tidak bisa memutuskannya sendiri”.

Yang menjadi pemikiran, apakah pansus bisa memastikan ini berlangsung 2 bulan. Karena semua pekerjaan mesti ada target waktu yang ditetapkan dan dijalankan. Kalau molor, mungkin saja dana Pansus ini semakin membengkak. Maka uang rakyat, bukan semakin dikembalikan, sebaliknya hilang untuk membiayai pekerjaan yang belum tentu kejelasannya.

Seperti dikatakan wakil ketua pansus lainnya, Mahfudz Siddiq, bahwa anggaran Rp 5 miliar merupakan STANDAR MINIMAL pansus. "Dari pengalaman pansus-pansus yang lalu, itu termasuk minim," kata Mahfudz. Dana sebesar itu dianggarkan untuk empat bulan masa kerja, sebagai antisipasi perpanjangan waktu kerja apabila pansus belum dapat menyelesaikan tugasnya selama dua bulan pertama.
Dari penjelasan tersebut, tidak adanya kepastian penyelidikan, soal dana saja, Pansus sudah memperkirakan untuk dana 4 bulan, apakah tim yang cendikiawan itu tidak bisa bekerja pada target waktu.

Belajar dari pengalaman di negeri ini, semakin lama suatu kasus dibiarkan berlangau, maka makin banyak sabotase, rekayasa, atau ketidakbenarannya. Sehingga, bukti sangat sulit ditemukan, atau hanya bukti buatan. Akibatnya, masuklah bau-bau politik busuk yang akan menghibak dalam permainan tersebut.

Yang jelas, dana 5 Milyar yang merupakan uang rakyat akan dikucurkan buat pansus century. Apakah dana ini bertambah atau berkurang, itu tak ada kejelasan dan kepastian. Tapi kita mencermati dari perkataan ketua itu, ada kemungkinan lebih besar ada kemungkinan berkurang. Kalau berkurang tidak mungkin, karena kebiasaan kita, kalau sudah memegang uang, sulit mau mengembalikannya. Dibuat jumlah dana, baru dibuat list kegiatan, memaksa-maksa biar dana kegiatan dipas-paskan biar sampai dari yang sudah ditetapkan.

Dalam bahasa Inggris kata Jika (If) adalah kata antonym dari kalimat sesungguhnya, artinya tidak benar dari apa yang diucap. Telaah saja kata-kata berikut yang dituturkan "JIKA dana tersebut berlebih dan bersisa, maka otomatis akan dikembalikan," ujar Mahfudz. Ia menambahkan, pansus langsung mematok anggaran untuk empat bulan masa kerja dengan resiko kelebihan dana, karena lebih mudah untuk mengembalikan kelebihan anggaran ketimbang mengajukan tambahan anggaran bila ternyata pansus kekurangan dana di tengah proses angket. Ditambahkan pula mencoba untuk memberikan pernyataan membandingkan “Pansus angket DPT dan BBM dulu bahkan menghabiskan dana di atas 5 miliar," kata Mahfudz.

Yang dilakukan pansus ini, bukan untuk mencari siapa dalang, bukan untuk menahan siapa, karena tidak ada kewenangan. Yang dikerjakan pansus ini adalah, sejauh mana besarnya aset-aset Century dan mempelajari data-data yang sudah tersedia dari audit BPK, bukan melakukan penyelidikan. Dalam mengusut permasalahan ini, bukan berdasarkan saksi/kata orang, tapi yang menjadi dasar adalah data BPK, data pengembangan, atau lebih ditegaskan data-data fakta yang ada. Apa benar data kebenaran itu masih ada?. Bank Indonesia saja, tidak bisa mengeluarkan list-list, kemana Bank Century itu dilarikan dan dikeluarkan. Semoga masih, harapan begitu, atau data yang sudah diamankan.

Yang jelas tugas pansus ini hanya memepelajari data yang sudah disediakan oleh BPK atas asset-aset yang dimiliki Bank Century. Untuk mempelajari data ini dibutuhkan 5 Milyar, karena walaupun ada pengembangan (memanggil saksi atau kata saksi), semuanya tidak dijadikan patokan, kata salah seorang ketua Pansus dalam wawancara di salah satu radio nasional.

Sekarang rakyat sangat berharap penuh kepada Pansus menangani kasus century. Dengan harapan, saat ini rakyat memiliki sentiment yang tinggi terhadap pejabat, penegak hokum, atau instansi public. Hendakny Pansus juga bisa menjaga kesensitifan rakyat yang sedang mengalami krisis kepercayaan.

Sebelumnya, kita mengucapkan selamat bekerja Pansus. Rakyat sedang memberi kepercayaan, namun jangan menyimpang dari harapan rakyat, karena bukan saja ketidakpercayaan itu makin terkikis terhadap MPR, namun juga bisa berakibat ke seluruh penegak hokum dan instansi public.

Jangan sampai rakyat berjalan sendiri-sendiri karena ketidakpercayaan itu. Karena juga berdampak akan munculnya pengadilan publik, maka anarkispun akan bukan tidak mustahil terjadi di seluruh tanah air. Masyarakat terlalu muak melihat ini semua, kesabaran rakyat juga ada batasnya. Jangan biarkan kemuakan itu meledak ke titik yang hebat, yang akhirnya kondisi ini bisa mengakibatkan kehancuran Negara, bahkan Negara ini bisa bubar. Tentunya itu tidak kita inginkan, karena Indonesia berdiri penuh perjuangan dan kehormatan atas darah rakyat.

Pansus harus mengungkap semua kebenaran itu. Jangan sampai rakyat semakin kecewa, jangan jadikan ini sebagai ranah politik busuk, jangan dijadikan pansus ini sebagai lahan uang, jangan jadikan pula sebagai kesempatan mencari popolaritas. Jadikan momentum ini untuk kepercayaan rakyat kepada pemerintah, jadikan panggilan hati sebagai anak bangsa yang ingin Negara ini maju, yang bebas dari korupsi, dan keadilan harus ditegakkan.

Selamat bekerja Pansus Century, selamat untuk bisa mengungkap kebenaran seterang-terangnya. Jangan menambah luka hati rakyat, jangan buat rakyat kecewa. Karena Pansus siap diadili massa kalau itu terjadi penyimpangan. Jangan sampai angket century sama dengan angket-angket lainnya, yang tidak tau hasil, dan keputusan. Yang miris, kasus angket sebelumnya tak pernah teruangakap akan hal apapun.

Congrutulation Pansus, rakyat selalu menyaksikan, selalu melihat, mendengar, mencermati, menganalisa, dan terus mengkritisi kasus century. Jangan lupa, rakyat sedang menunggu..!!!!!

Ditulis Oleh : Misriadi Mahdi

Read more...

Kantin Kejujuran Bagian dari Pembelajaran Antikorupsi

Yg terjadi di SMP 6 Jakarta atau SMA 1 Jakarta, merupakan salah satu sekolah yang menerapkan “Kantin Kejujuran”. Hingga saat ini, sekolah-sekolah di tanah air sudah begitu banyak yang menerapkan kantin kejujuran. Bukan hanya Jakarta, hampir di semua propinsi sudah mulai mendirikannya dengan menggandeng kerja sama pemerintahan untuk menerapkan kantin kejujuran.

Biasanya kantin merupakan tempat jualan berbagai kebutuhan makanan anak sekolah/kampus yang dijaga oleh penjualnya. Tapi di kantin ini malahan tidak berpenjaga dan hanya terdiri atas makanan yang disertai label harga.

Guru di sekolah tersebut, memang mengaku bahwa di awal bukanya kantin kejujuran mengalami kerugian. Namun dengan semakin adanya kesadaran moral yang tumbuh dari siswa/i sekolah itu sendiri, semakin lama semakin berkurang, hingga selisihnya hanya Rp 3.000 rupiah dari penjualan.

Dalam arti bergerak semakin lebih baik, hingga akhirnya kantin ini sudah mampu berdiri selama hampir 1 tahun. Di sekolah ini pula, semakin adanya keoptimisan untuk menumbuhkan prilaku jujur para pelajarnya, sekarang sekolah ini malahan sudah membuat “Laborotium Kejujuran”.

Kantin ini diharapkan para pelajar dapat membiasakan hidup jujur, yang merupakan langkah awal pelajaran sejak dini untuk menuju masa depan yang lebih baik, mengembangkan budaya malu, memupuk sifat jujur, demi menangkal korupsi sejak usia dini, walau tidak dilihat orang. Inilah yang mengawali masyarakat kita nantinya bisa menjadi manusia jujur, yang akhirnya juga tidak melakukan korupsi.

Upaya pencegahan dan pendidikan antikorupsi sebenarnya bukan hanya tanggung jawab pemerintah dan lembaga penegak hukum, tetapi semua masyarakat bertanggung jawab terhadap upaya pendidikan dan upaya pencegahan itu. Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal diharapkan pula untuk memberikan pendidikan secara dini terhadap generasi bangsa yang pada masa-masa mendatang akan mengambil posisi penting dalam pembangunan bangsa dan negara.

Budaya jujur memang harus ditanamkan sejak usia dini. Kejujuran itu harus tumbuh dari dalam hati. Dengan harapan, kedepan generasi yang ditempa melalui budaya jujur di kantin kejujuran, bisa membangun peradaban dengan kejujuran. Memang tidak ada salahnya menerapkan hidup jujur, karena “Kejujuran adalah Mata Uang yang Berlaku di Negara mana pun”.

Ditulis Oleh : Misriadi Mahdi

Read more...

Saturday, December 5, 2009

Indonesia Daftar Liga FIFA 2022

Kali ini mau nulis tentang bola kaki dulu. Walau gak suka dengan olah raga ini, tapi sekali-kali juga suka dengar-dengar topik bola kaki, kayaknya malu-malu kucing gitu deh ngakuin ngikutin bola kaki, tapi gengsian gitu, hehehe, maklum bola kaki di Indonesia masih belum dewasa permainannya. Ya sudah, saya makan kue dulu ya... ntar disambung lagi nulisnya (40 menit). Teng neng....selesai makannya, tulis aja deh sebagai informasi buat teman-teman blogger sebagai informasi, agar tidak ketinggalan.

Kabarnya Indonesia akan mendaftarkan diri sebagai tuan rumah dalam liga FIFA world cup pada 2022 dengan mengusung tema "Green world cup" alias bola dunia hijau, taik kerbau kali hijau,,,heheheh. Eh..eh..eh..gak boleh gitu, serius lagi ah. Tentunya diharapkan bahwa piala dunia 2022 (jika Indonesia terwujud menjadi tuan rumah) akan menjadikan piala dunia yang ramah lingkungan yang dapat memberikan sesuatu bagi planet ini. Namun kenyataannya benarkah peluang Indonesia menjadi tuan rumah piala dunia seindah tema piala dunia tahun 2022 yang diajukan PSSI??

Mungkin-mungkin saja sih Indonesia jadi tuan rumah. Tahun 2007, FIFA mengganti peraturan rotasi atau perputaran tuan rumah piala dunia. Sebelumnya, piala dunia selalu digilir selang seling antara negara-negara Eropa dan negara-negara non-Eropa. Agar perputaran lebih merata maka sejak 2007 FIFA merubah peraturan perputaran atau penggiliran tuan rumah piala dunia. Negara-negara yang boleh mendaftar menjadi tuan rumah piala dunia tidak boleh berasal dari benua yang sama dengan negara-negara yang sudah menjadi tuan rumah piala dunia sebelumnya dan yang sebelumnya lagi. Contoh: Jerman sudah menjadi penyelenggara Piala Dunia 2006 lalu, maka seluruh negara-negara Eropa dilarang mendaftar menjadi calon tuan rumah piala dunia 2010 dan 2014. Afrika Selatan yang menjadi tuan rumah piala dunia 2010, maka seluruh negara-negara Afrika dilarang mendaftar menjadi calon tuan rumah piala dunia 2014 dan 2018. Sedangkan Brasil yang akan menjadi tuan rumah piala dunia 2014, menjadikan seluruh negara-negara Amerika Selatan dilarang untuk mendaftar menjadi tuan rumah piala dunia 2018 dan 2022. Begitu seterusnya.

Intinya, di Asia Tenggara belum pernah dijadikan tempat tuan rumah. Tapi kita balik mikir, apa mungkin Indonesia dipilih dibandingkan dengan negara malaysia, singapura, vietnam, atau negara asia lainnya seperti korea, dan de el el nya. Terlalu berat untuk mengatakan terwujudnya, begitu banyak masalah negara ini, begitu banyak yang perlu dibenahi dalam birokrasi kita ini, tak terkecuali bidang sepak bola, yang sering kali dijadikan lahan uang.

Yang diperlukan untuk mewujudkan itu semua diperlukan orang-orang yang bernasionalisme tinggi, bukan menjadikan lahan uang bagi pengelolalnya. Adanya jaminan kelayakan hidup bagi pemainnya dan adanya kerja sama dan satu suara untuk menyatakan kegegehannya, mengantar Indonesia layak menjadi tuan rumah dan menjadi pemain berkelas dunia.

Ciptakanlah image positif di bidang olah raga bola kaki di Indonesia. Jangan ada lagi pemain-pemain yang asik mengejar wasit, jangan ada lagi perkelahian tiap pertandingan. Yang terpenting bagaimana mencipta pemain-pemain yang dewasa, yang mampu berpikir lebih maju dan penuh optimis keyakinan. Main bola kaki itu tak hanya otot yg kuat, bukan saja otak kosong melompong yang dipakai, tapi butuh strategi dan emulsion di otak untuk menyiapkan strategi (EQ).

Hem,,, harap-harap deh Indonesia mewujudkan itu semua. Moga Pak Malangeng bisa mengobarkan semangat pemuda-pemuda Indonesia untuk mencintai bidang olahraga bola kaki. Sehingga adanya keberlanjutan regenerasi yang mencintai bola kaki dan siap berdiri tegak di 2022 nanti, mengantarkan Indonesia menjadi negara yang layak dinobatkan "Indonesia juga bisa". Semoga...!!!

Untuk membaca berita ini, kunjungi blog pribadi saya di http://misriadi.blogspot.com/

Di tulis oleh : Misriadi Mahdi
Read more...

Sunday, November 15, 2009

Fakta di Balik Kriminalisasi KPK, dan Keterlibatan SBY

Halo all, untuk membaca berita ini, kunjungi blog pribadi saya di http://misriadi.blogspot.com/

Apa yang terjadi selama ini sebetulnya bukanlah kasus yang sebenarnya, tetapi hanya sebuah ujung dari konspirasi besar yang memang bertujuan mengkriminalisasi institusi KPK. Dengan cara terlebih dahulu mengkriminalisasi pimpinan, kemudian menggantinya sesuai dengan orang-orang yang sudah dipilih oleh “sang sutradara”, akibatnya, meskipun nanti lembaga ini masih ada namun tetap akan dimandulkan.

Agar Anda semua bisa melihat persoalan ini lebih jernih, mari kita telusuri mulai dari kasus Antasari Azhar. Sebagai pimpinan KPK yang baru, menggantikan Taufiqurahman Ruqi, gerakan Antasari memang luar biasa. Dia main tabrak kanan dan kiri, siapa pun dibabat, termasuk besan Presiden SBY.

Antasari yang disebut-sebut sebagai orangnya Megawati (PDIP), ini tidak pandang bulu karena siapapun yang terkait korupsi langsung disikat. Bahkan, beberapa konglomerat hitam — yang kasusnya masih menggantung pada era sebelum era Antasari, sudah masuk dalam agenda pemeriksaaanya.

Tindakan Antasari yang hajar kanan-kiri, dinilai Jaksa Agung Hendarman sebagai bentuk balasan dari sikap Kejaksaan Agung yang tebang pilih, dimana waktu Hendraman jadi Jampindsus, dialah yang paling rajin menangkapi Kepala Daerah dari Fraksi PDIP. Bahkan atas sukses menjebloskan Kepala Daerah dari PDIP, dan orang-orang yang dianggap orangnya Megawati, seperti ECW Neloe, maka Hendarman pun dihadiahi jabatan sebagai Jaksa Agung.

Setelah menjadi Jaksa Agung, Hendarman makin resah, karena waktu itu banyak pihak termasuk DPR menghendaki agar kasus BLBI yang melibatkan banyak konglomerat hitam dan kasusnya masih terkatung –katung di Kejaksaan dan Kepolisian untuk dilimpahkan atau diambilalih KPK. Tentu saja hal ini sangat tidak diterima kalangan kejaksaan, dan Bareskrim, karena selama ini para pengusaha ini adalah tambang duit dari para aparat Kejaksaan dan Kepolisian, khususnya Bareskrim. Sekedar diketahui Bareskrim adalah supplier keungan untuk Kapolri dan jajaran perwira polisi lainnya.

Sikap Antasari yang berani menahan besan SBY, sebetulnya membuat SBY sangat marah kala itu. Hanya, waktu itu ia harus menahan diri, karena dia harus menjaga citra, apalagi moment penahanan besannya mendekati Pemilu, dimana dia akan mencalonkan lagi. SBY juga dinasehati oleh orang-orang dekatnya agar moment itu nantinya dapat dipakai untuk bahan kampanye, bahwa seorang SBY tidak pandang bulu dalam memberantas korupsi. SBY terus mendendam apalagi, setiap ketemu menantunya Anisa Pohan , suka menangis sambil menanyakan nasib ayahnya.

Dendam SBY yang membara inilah yang dimanfaatkan oleh Kapolri dan Jaksa Agung untuk mendekati SBY, dan menyusun rencana untuk “melenyapkan” Antasari. Tak hanya itu, Jaksa Agung dan Kapolri juga membawa konglomerat hitam pengemplang BLBI [seperti Syamsul Nursalim, Agus Anwar, Liem Sioe Liong, dan lain-lainnya), dan konglomerat yang tersandung kasus lainnya seperti James Riyadi (kasus penyuapan yang melibatkan salah satu putra mahkota Lippo, Billy Sindoro terhadap oknun KPPU dalam masalah Lipo-enet/Astro, dimana waktu itu Billy langsung ditangkap KPK dan ditahan), Harry Tanoe (kasus NCD Bodong dan Sisminbakum yang selama masih mengantung di KPK), Tommy Winata (kasus perusahaan ikan di Kendari, Tommy baru sekali diperiksa KPK), Sukanto Tanoto (penggelapan pajak Asian Agri), dan beberapa konglomerat lainnya].

Para konglomerat hitam itu berjanji akan membiayai pemilu SBY, namun mereka minta agar kasus BLBI , dan kasus-kasus lainnya tidak ditangani KPK. Jalur pintas yang mereka tempuh untuk “menghabisi Antasari “ adalah lewat media. Waktu itu sekitar bulan Februari- Maret 2008 semua wartawan Kepolisian dan juga Kejaksaan (sebagian besar adalah wartawan brodex – wartawan yang juga doyan suap) diajak rapat di Hotel Bellagio Kuningan. Ada dana yang sangat besar untuk membayar media, di mana tugas media mencari sekecil apapun kesalahan Antasari. Intinya media harus mengkriminalisasi Antasari, sehingga ada alasan menggusur Antasari.

Nyatanya, tidak semua wartawan itu “hitam”, namun ada juga wartawan yang masih putih, sehingga gerakan mengkriminalisaai Antasari lewat media tidak berhasil.

Antasari sendiri bukan tidak tahu gerakan-gerakan yang dilakukan Kapolri dan Jaksa Agung yang di back up SBY untuk menjatuhkannya. Antasari bukannya malah nurut atau takut, justeru malah menjadi-hadi dan terkesan melawan SBY. Misalnya Antasari yang mengetahui Bank Century telah dijadikan “alat” untuk mengeluarkan duit negara untuk membiayai kampanye SBY, justru berkoar akan membongkar skandal bank itu. Antasari sangat tahu siapa saja operator –operator Century, dimana Sri Mulyani dan Budiono bertugas mengucurkan duit dari kas negara, kemudian Hartati Mudaya, dan Budi Sampurna, (adik Putra Sanpurna) bertindak sebagai nasabah besar yang seolah-olah menyimpan dana di Century, sehingga dapat ganti rugi, dan uang inilah yang digunakan untuk biaya kampanye SBY.

Tentu saja, dana tersebut dijalankan oleh Hartati Murdaya, dalam kapasitasnya sebagai Bendahara Paratai Demokrat, dan diawasi oleh Eddy Baskoro plus Djoko Sujanto (Menkolhukam) yang waktu itu jadi Bendahara Tim Sukses SBY. Modus penggerogotan duit Negara ini biar rapi maka harus melibatkan orang bank (agar terkesan Bank Century diselamatkan pemerintah), maka ditugaskan lah Agus Martowardoyo (Dirut Bank Mandiri), yang kabarnya akan dijadikan Gubernur BI ini. Agus Marto lalu menyuruh Sumaryono (pejabat Bank Mandiri yang terkenal lici dan korup) untuk memimpin Bank Century saat pemerintah mulai mengalirkan duit 6,7 T ke Bank Century.

Antasari bukan hanya akan membongkar Century, tetapi dia juga mengancam akan membongkar proyek IT di KPU, dimana dalam tendernya dimenangkan oleh perusahaannya Hartati Murdaya (Bendahara Demokrat). Antasari sudah menjadi bola liar, ia membahayakan bukan hanya SBY tetapi juga Kepolisian, Kejaksaan, dan para konglomerat , serta para innercycle SBY. Akhirnya Kapolri dan Kejaksaan Agung membungkam Antasari. Melalui para intel akhirnya diketahui orang-orang dekat Antasari untuk menggunakan menjerat Antasari.

Orang pertama yang digunakan adalah Nasrudin Zulkarnaen. Nasrudin memang cukup dekat Antasari sejak Antasari menjadi Kajari, dan Nasrudin masih menjadi pegawai. Maklum Nasrudin ini memang dikenal sebagai Markus (Makelar Kasus). Dan ketika Antasari menjadi Ketua KPK, Nasrudin melaporkan kalau ada korupsi di tubuh PT Rajawali Nusantara Indonesia (induk Rajawali Putra Banjaran). Antasari minta data-data tersebut, Nasrudin menyanggupi, tetapi dengan catatan Antasari harus menjerat seluruh jajaran direksi PT Rajawali, dan merekomendasarkan ke Menteri BUMN agar ia yang dipilih menjadi dirut PT RNI, begitu jajaran direksi PT RNI ditangkap KPK.

Antasari tadinya menyanggupi transaksi ini, namun data yang diberikan Nasrudin ternyata tidak cukup bukti untuk menyeret direksi RNI, sehingga Antasari belum bisa memenuhi permintaan Nasrudin. Seorang intel polsi yang mencium kekecewaan Nasrudin, akhirnya mengajak Nasrudin untuk bergabung untuk melindas Antasari. Dengan iming-iming, jasanya akan dilaporkan ke Presiden SBY dan akan diberi uang yang banyak, maka skenario pun disusun, dimana Nasrudin disuruh mengumpan Rani Yulianti untuk menjebak Antasari.

Rupanya dalam rapat antara Kapolri dan Kejaksaan, yang diikuti Kabareskrim. melihat kalau skenario menurunkan Antasari hanya dengan umpan perempuan, maka alasan untuk mengganti Antasari sangat lemah. Oleh karena itu tercetuslah ide untuk melenyapkan Nasrudin, dimana dibuat skenario seolah yang melakukan Antasari. Agar lebih sempurna, maka dilibatkanlah pengusaha Sigit Hario Wibisono. Mengapa polisi dan kejaksaan memilih Sigit, karena seperti Nasrudin, Sigit adalah kawan Antasari, yang kebetulan juga akan dibidik oleh Antasari dalam kasus penggelapan dana di Departemen Sosial sebasar Rp 400 miliar.

Sigit yang pernah menjadi staf ahli di Depsos ini ternyata menggelapakan dana bantuan tsunami sebesar Rp 400 miliar. Sebagai teman, Antasari, mengingatkan agar Sigit lebih baik mengaku, sehingga tidak harus “dipaksa KPK”. Nah Sigit yang juga punya hubungan dekat dengan Polisi dan Kejaksaan, mengaku merasa ditekan Antasari. Di situlah kemudian Polisi dan Kejaksaan melibatkan Sigit dengan meminta untuk memancing Antasari ke rumahnya, dan diajak ngobrol seputar tekana-tekanan yang dilakukan oleh Nasrudin. Terutama, yang berkait dengan “terjebaknya: Antasari di sebuah hotel dengan istri ketiga Nasrudin.

Nasrudin yang sudah berbunga-bunga, tidak pernah menyangka, bahwa akhirnya dirinyalah yang dijadikan korban, untuk melengserkan Antasari selama-laamnya dari KPK. Dan akhirnya disusun skenario yang sekarang seperti diajukan polisi dalam BAP-nya. Kalau mau jujur, eksekutor Nasrudin buknalah tiga orang yangs sekarang ditahan polisi, tetapi seorang polisi (Brimob ) yang terlatih.

Bibit dan Chandra. Lalu bagaimana dengan Bibit dan Chandra? Kepolisian dan Kejaksaan berpikir dengan dibuinya Antasari, maka KPK akan melemah. Dalam kenyataannya, tidak demikian. Bibit dan Chandra , termasuk yang rajin meneruskan pekerjaan Antasari. Seminggu sebelum Antasari ditangkap, Antasari pesan wanti-wanti agar apabila terjadi apa-apa pada dirinya, maka penelusuran Bank Century dan IT KPU harus diteruskan.

Itulah sebabnya KPK terus akan menyelidiki Bank Century, dengan terus melakukan penyadapan-penyadapan. Nah saat melakukan berbagai penyadapan, nyangkutlah Susno yang lagi terima duit dari Budi Sammpoerna sebesar Rp 10 miliar, saat Budi mencairkan tahap pertama sebasar US $ 18 juta atau 180 miliar dari Bank Century. Sebetulnya ini bukan berkait dengan peran Susno yang telah membuat surat ke Bank Century (itu dibuat seperti itu biar seolah–olah duit komisi), duit itu merupakan pembagian dari hasil jarahan Bank Century untuk para perwira Polri. Hal ini bisa dipahami, soalnya polisi kan tahu modus operansi pembobolan duit negara melalui Century oleh inner cycle SBY.

Bibit dan Chandra adalah dua pimpinan KPK yang intens akan membuka skandal bank Bank Century. Nah, karena dua orang ini membahayakan, Susno pun ditugasi untuk mencari-cari kesalahan Bibit dan Chandra. Melalui seorang Markus (Eddy Sumarsono) diketahui, bahwa Bibit dan Chandra mengeluarkan surat cekal untuk Anggoro. Maka dari situlah kemudian dibuat Bibit dan Chandra melakukan penyalahgunaan wewenang.

Nah, saat masih dituduh menyalahgunakan wewenang, rupanya Bibit dan Chandra bersama para pengacara terus melawan, karena alibi itu sangat lemah, maka disusunlah skenario terjadinya pemerasan. Di sinilah Antasari dibujuk dengan iming-iming, ia akan dibebaskan dengan bertahap (dihukum tapi tidak berat), namun dia harus membuat testimony, bahwa Bibit dan Chandra melakukan pemerasan.

Berbagai cara dilakukan, Anggoro yang memang dibidik KPK, dijanjikan akan diselsaikan masalahnya Kepolisian dan Jaksa, maka disusunlah berbagai skenario yang melibatkanAnggodo, karena Angodo juga selama ini sudah biasa menjadi Markus. Persoalan menjadi runyam, ketika media mulai mengeluarkan sedikir rekaman yang ada kalimat R1-nya. Saat dimuat media, SBY konon sangat gusar, juga orang-orang dekatnya, apalagi Bibit dan Chandra sangat tahu kasus Bank Century. Kapolri dan Jaksa Agung konon ditegur habis Presiden SBY agar persoalan tidak meluas, maka ditahanlah Bibit dan Chandra ditahan. Tanpa diduga, rupanya penahaan Bibit dan Chandra mendapat reaksi yang luar biasa dari publik maka Presiden pun sempat keder dan menugaskan Denny Indrayana untuk menghubungi para pakar hokum untuk membentuk Tim Pencari Fakta (TPF).

Demikian, sebetulnya bahwa ujung persoalan adalah SBY, Jaksa Agung, Kapolri, Joko Suyanto, dan para kongloemrat hitam, serta innercycle SBY (pengumpul duit untk pemilu legislative dan presiden). RASANYA ENDING PERSOALAN INI AKAN PANJANG, KARENA SBY PASTI TIDAK AKAN BERANI BERSIKAP. Satu catatan, Anggoro dan Anggodo, termasuk penyumbang Pemilu yang paling besar.

Jadi mana mungkin Polisi atau Jaksa, bahkan Presiden SBY sekalipun berani menagkap Anggodo!

Tautan ; Rina Dewreight


Read more...

Tuesday, October 27, 2009

PARA PEMUDA ASIK DENGAN JEJARING SOSIAL, TAPI LUPA UNTUK BERSOSIAL DI MASYARAKAT


Dengan kemajuan dunia globalisasi dan teknologi, maka berdampak pula pada peradaban bangsa ini, tak terkecuali para pemuda Indonesia. Dengan perubahan peradaban inilah terkadang kita larut dan malas untuk berpikir serta tidak respeknya akan lingkungan sekitar kita.

Dengan kemajuan teknologi pula, menjadikan para pemuda Indonesia menjadi manusia autis. Memang miris terkadang kita sebagai pemuda-pemudi Indonesia dinobatkan sebagai manusia autis alias manusia cacat mental. Dalam artian autis yang dihubungkan dalam permasalahan perubahan peradaban ini adalah “ manusia yang membentuk dunia sendiri”, asik dengan lingkupan tertentu.

Terkadang kita betah menghabiskan waktu kita 24 jam di depan Laptop, hp, computer, atau fasilitas yang menunjang kita melakukan akses jejaring social.

Yang menjadi permasalahan sekarang adalah menjadikan kita larut dengan jejaring social itu semua. Sebut sajalah Facebook, frienster, twitter, bing, space, socialgo atau jejaring social lainnya. Sakin asiknya, bahkan ke kamar mandi lagi boker pun bawa balckbary untuk mengakses jejaring social itu. Lebih ekstrimnya bangun tengah malam bahkan tidak tidur untuk menunggu runtaian komentar-komentar yang mungkin menimba wall dan pic yang ada di jejaring social.

Namun terkadang ada yang terlupakan. Diantara banyak dampak negative, perubahan peradaban itu adalah kita lupa akan lingkungan sekitar. Ketika makan malam bersama keluarga, tak lagi ada suatu kehangatan dan kenikmatan makan malam, karena tangan sebelahnya sibuk memencet-mencet hanpone untuk mengakses jejaring social, senantiasa ibu, adik, kakak, atau keluarga tidak dipandangi lagi, asik dengan ke-autisan dirinya.

Lebih sering dilihat lagi, di dalam oplet/angkot, bis, atau tempat-tempat umum, tak ada lagi tegur sapa sesama manusia. Semua hal yang biasa menjadi budaya ramah yang menyelimuti pemuda-pemudi Indonesia ini tak ada lagi, karena asik dengan hp nya, tak ada lagi senyum kepada sesame masyarakat, tak ada lagi beramah tamah. Senantiasa hal sebaliknya dilakukan sibuk bersosial di jejaring social, yang terkadang tidak tau mau melakukan apa, selain berharap menunggu komentar-komentar rekannya yang sesame autis.

Nah dari sini saya selaku penulis “ Misriadi”, saya hendak menyampaikan ini secara proporsional, secara lebih membangun. Kita boleh bersosial, mungkin dengan rekan lama, dengan teman, ataupun teman baru, tapi semoga kita tidak lupa dengan budaya kita untuk juga bersosial, sifat tegur antar sesame, dalam kenyataan lingkungan bermasyarakat, itu semua bisa kita terapkan kalau tidak mau dibilang autis. Mungkin saya juga tidak munafik, asik dengan jejaring social, namun kita hendaknya saling mengingatkan, dan ada bagian yang telupakan.

Kemajuan dan perubahan peradaban tak selamanya negative, inilah bagian yang kita dukung. Misalnya berbagi informasi, pengetahuan, motivasi, atau lebih hebatnya kita bisa bersuara untuk memberi kritik buat pemerintah, buat teman, yang semuanya itu untuk kemajuan bersama. Hendaknya kita lakukan secara proporsional, lebih tepatnya berimbang. Jangan hanya menjadikan jejaring yang tak bermanfaat, tapi upayakanlah sesuatu yang bermanfaat. Dalam tanda kutip jejaring juga membantu untuk mengekspresikan diri (positif), mengungkapkan perasaan, pikiran, refreshing dan terkadang hal-hal yang bisa menjadi sesuatu lebih bermanfaat.

Kemajuan globalisasi akan secara tidak kita sadari akan merubah peradaban. Inilah menjadikan dunia tanpa batas, menjadikan dunia sempit, menjadikan semua serba cepat. Namun yang perlu kita ingatkan, pandai-pandailah untuk memetik kemajuan itu.

Tepatnya besok hari merupakan hari Sumpah Pemuda Indonesia. Mari kita tepiskan apa yang dipatokkan para peneliti “ Pemuda Indonesia sudah banyak menjadi autis atau ada yang menyebutkan “Pemuda Indonesia Malas bersosial” bisa kita tampikkan bersama. Dengan cara melihat dan melakukan itu semua secara proposional.

Selamat hari sumpah pemuda. Maju terus Pemuda Indonesia, jangan pantang menyerah, jangan lupa kita bersama bisa untuk memajukan bangsa ini, jika kita mau saling mengingatkan.

SELAMAT HARI SUMPAH PEMUDA INDONESIA (28,10,09), semoga kita tetap bisa menjaga keutuhan bangsa ini, dengan keberagaman yang ada.

Bagi teman Facebook berita ini akan teimbuse secara otomatis. Berita ini dimuat di blog pribadi Misriadi Mahdi, untuk membaca selengkapnya klik blog pribadi saya di : http://misriadi.blogspot.com/

Ditulis Oleh : Misriadi Mahdi


Read more...

PUSTAKA KITA

> MISRIADI BLOG
> OKEZONE
> GAME ONLINE FULLY
> DETIK
> BLOG TARGET
> VIVA NEWS
> DESIGN BLOG
> BIRU BLOG
> LOGO BLOG
> BLOG BASIS BAHASA
> HTML BLOG
> SENIOR BLOG PANUTAN
free counters



website design