Sunday, June 7, 2009

Presiden Ideal, Sekedar Mitoskah?

Oleh : Yanuar Arifin

Pada bulan Juli nanti, sebuah babak baru dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia akan ditentukan. Saat itulah, nasib masyarakat Indonesia selama lima tahun ke depan dipertaruhkan dalam sebuah pesta demokrasi yang disebut pemilihan presiden (pilpres). Bila dari pilpres 2009 kita berhasil menemukan sosok pemimpin yang tepat, dipastikan bangsa Indonesia akan bisa dibawa ke arah yang lebih baik. Namun sebaliknya, bila sosok yang terpilih adalah seorang pemimpin yang tidak cakap, bangsa Indonesia akan kembali terpuruk dalam berbagai krisis.

Tantangan Indonesia lima tahun ke depan tentu akan jauh lebih besar dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Untuk itu, seorang pemimpin ideal yang bisa mengemong bangsa Indonesia sangatlah dibutuhkan. Kita tentu tidak menginginkan periode krisis seperti halnya di masa rezim orde baru kembali terulang. Suatu periode di mana para pemimpin di negeri ini menjadi vampir yang menghisap habis darah rakyat Indonesia melalui tindakan korup yang mereka lakukan.

Bangsa Indonesia tentu tidak ingin pula sosok manusia seperti mantan presiden Soeharto kembali memimpin negeri ini dengan gaya kepemimpinannya yang otoriter. Justru yang kita inginkan adalah sosok pemimpin yang ideal. Pertanyaan selanjutnya, dari ketiga calon presiden yang ada, yakni Jusuf Kalla, Megawati, dan Susilo Bambang Yudoyono, siapakah yang paling ideal untuk memimpin bangsa Indonesia pada periode 2009-2014?

Untuk itulah, dalam tulisan ini kita akan melihat kriteria seorang pemimpin yang ideal bagi bangsa Indonesia. Harapannya, dari kriteria yang akan dipaparkan, kita bisa menentukan pilihan secara cermat salah seorang di antara ketiga calon presiden yang ada.


Kriteria Presiden Ideal

Dalam buku ‘Sistem Presidensial dan Sosok Presiden Ideal’ yang ditulis pakar politik Indonesia, Syamsuddin Haris beserta pengamat politik lainnya terbitan 2009, saya menemukan sebuah pembahasan yang menarik. Dalam buku itu dipaparkan bahwa pada zaman Yunani Kuno, seorang filosoflah yang dianggap sebagai sosok pemimpin yang paling ideal. Sebagaimana dalam Republic, Plato menyatakan bahwa negara dapat direformasi cukup dengan satu persyaratan saja, meskipun hal itu tidak mudah dilakukan, yaitu bila raja atau pemimpinnya adalah seorang filosof. Karena hanya para raja yang memiliki semangat dan kekuasaan filosofis sebagaimana dimiliki oleh para ahli pikirlah, kekuasaan yang besar dapat menjadi satu dengan kearifan.

Di jaman yang lebih klasik lagi, melalui cerita-cerita rakyat dan biblikal, kualitas pemimpin yang ideal ditentukan oleh kekuatan fisik, yakni keahlian dalam perkelahian atau peperangan. Maka sosok manusia dengan kekuatan super seperti Hercules dan Samson menjadi sosok pemimpin yang diidealkan. Bila pemimpinnya adalah seorang perempuan, maka kualitas kecantikan, daya tarik seksual yang besar menjadi persyaratannya. Sosok yang demikian dulu ditemukan pada sosok perempuan seperti Cleopatra dan Ken Dedes. Mereka adalah para perempuan yang mampu membuat seorang Julius Cesar dan Ken Arok bertekuk lutut.

Sosok pemimpin ideal di jaman mutakhir tentu jauh lebih kompleks dibandingkan kriteria pemimpin di jaman klasik maupun Yunani kuno. Para pakar seperti Ordway Tead, E.S. Bogardus, Betrand Russel dan James MacGregor Burns sepakat bahwa sosok pemimpin yang ideal adalah sosok yang memiliki beberapa karakter khusus. Di antaranya adalah physical and nerve energy (kuat jiwa dan raganya), A sense of purpose and direction (mempunyai indera menentukan arah dan tujuan), Enthusiasm (antusias, bersemangat), friendliness and affection (akrab berteman dan punya rasa kasih sayang), integrity (integritas pribadi), technical mastery (ketrampilan/kemampuan teknik kepemimpinan), decisiveness (cepat dan tepat dalam mengambil keputusan), intelligence (cerdas), teaching skill (kemampuan mengajar) dan faith (dapat dipercaya). Namun karakter di atas oleh seorang pemikir mutakhir Larry Stout (2001) masih dianggap belum cukup. Oleh karena itu, ia menambahkan enam syarat kapasitas kepemimpinan (leadership capital) dan empat kondisi kepemimpinan (leadership conditions) yang dibutuhkan oleh seorang pemimpin ideal agar kepemimpinannya berhasil.

Keenam persyaratan kemampuan seorang pemimpin adalah visioner, nilai-nilai keutamaan yang merupakan filosofi dari pemimpin, kearifan, keberanian, percaya diri, dan kemampuan dalam mempengaruhi orang lain. Sementara situasi yang dibutuhkan agar kepemimpinan berhasil adalah tempat yang tepat di mana pemimpin berada, kurun waktu yang tepat pada saat pemimpin merasa mendapat panggilan sebagai pemimpin, kedudukan yang dapat dipergunakan pemimpin untuk memperoleh kewenangan dan masyarakat atau pengikut yang bersedia menjadikannya sebagai seorang pemimpin.


Ideal bagi Indonesia

Dalam konteks Indonesia, kriteria di atas ternyata belumlah cukup. Pemimpin yang ideal seharusnya juga memiliki atribut sebagai berikut: pertama, mempunyai kemampuan dan kemauan mempergunakan sumber daya yang dimiliki dan bersedia menanggung resiko. Kemampuan tersebut tentu sangat penting mengingat tantangan yang tengah dihadapi pasca reformasi tidaklah kecil. Tantangan tersebut dapat terjadi dalam beberapa level: internasional, institusi domestik maupun individual. Kedua, pemimpin harus memiliki visi atau pandangan ke depan yang bisa diwujudkan. Dalam artian, visi yang digagas oleh pemimpin dapat meyakinkan publik bahwa wawasan tersebut sangat berguna bagi kesejahteraan masyarakat di masa mendatang. Ketiga, komitmen. Seorang pemimpin idealnya memiliki komitmen sebagai refleksi dari kesadaran dirinya bahwa sebagai seorang pemimpin ia harus secara persisiten dan konsisten dalam mewujudkan cita-cita dan tujuan bersama.

Nah, kriteria di atas tentu masih belum cukup sempurna. Maka perlu ditambahkan pula dengan kriteria ideal yang sesuai dengan kehendak konstitusi bangsa Indonesia. Artinya, kriteria ideal pemimpin Indonesia adalah seorang pemimpin yang mampu mewujudkan misi bernegara sebagaimana dikehendaki Undang-undang Dasar 1945, yaitu ia harus mampu memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan ikut serta melaksanakan ketertiban dunia. Dari sinilah kemudian, kita dapat melihat apakah ketiga calon presiden pada 2009 sudah memenuhi prasyarat di atas. Jika belum, tentunya sosok pemimpin yang ideal masih jauh dari yang kita harapkan.

Untuk itu, selain rakyat harus cermat dan cerdas dalam menentukan pilihannya pada pilpres 2009 nanti, seharusnya mulai saat ini ketiga calon presiden yang bakal bertarung sudah membekali dirinya dengan kriteria seorang pemimpin yang ideal. Harapannya tak lain adalah terpilihnya seorang pemimpin bangsa yang mampu membawa bangsa Indonesia ke arah yang lebih baik. Namun bila kriteria yang diharapkan tidak dipenuhi, layak bila kita mengatakan bahwa presiden yang ideal hanyalah sekadar mitos bagi bangsa Indonesia. (*)
TERKAIT
Read more...

Tayangan televisi The Master haram

Kali ini giliran tayangan televisi The Master diharamkan oleh sejumlah pemimpin pondok pesantren di Jawa Timur. Sebelumnya situs jejaring pertemanan Facebook yang diharamkan.

Fatwa pengharaman acara The Master di sebuah stasiun TV swasta tersebut merupakan hasil dari pembahasan masalah atau bahtsul masail yang digelar di Pondok Pesantren Abu Dzarrin di Kendal, Kecamatan Dander, Bojonegoro untuk menyikapi tayangan The Master yang digandrungi oleh sebagian besar pemirsa televisi Indonesia. Acara tersebut dianggap menyesatkan karena menampilkan atraksi-atraksi di luar taraf kekuatan manusia biasa pada sesi terakhirnya yang menampilkan adu ketangkasan antara Master Joe sandi dan Master Limbad.

Bahtsul masail yang digelar dalam rangka haul KH Dimyati Adnan ke-19 dan KHA Munir Adnan ke-7 itu diikuti oleh sejumlah perwakilan dari beberapa pondok pesantren. Di antaranya dari Pondok Abu Dzarrin, pondok Al Fatimah (Bojonegoro), Pondok Lirboyo (Kediri), Tanggir (Tuban), Sidogiri (Pasuruan), Langitan (Tuban), Pondok Gilang (Lamongan), dan Al-Khozini (Sidoarjo).

Khoirul Rozi, koordinator pertemuan itu, mengatakan bahwa bahtsul masail memutuskan bahwa tontonan The Master hukumnya haram. Oleh karena itu, warga masyarakat juga diharamkan menontonnya karena tontonan itu diduga melibatkan mahluk halus dan atraksi yang dipertunjukkan dalam acara tersebut diduga kuat atas bantuan jin atau mahluk halus lainnya karena apa yang dipertontonkan di The Master sangat tidak masuk akal dan di luar batas kemampuan manusia pada umumnya. Contohnya, orang ditusuk benda tajam atau disetrum listrik berdaya tinggi tidak apa-apa.

Yang melihat acara itu juga berdosa karena ikut merasa senang atau ikut memercayai kekuatan jin atau makhluk halus lain yang diduga membantu dalam atraksi.

Dalam kitab Bughyatul Mustarsyidin, pada halaman 298-299, diterangkan bahwa pertunjukan semacam itu dikategorikan sebagai sihir yang hukumnya haram. Kecuali, The Master masuk dalam kategori `petunjuk dari Allah`, barulah itu diperbolehkan. Itu pun dengan catatan jika yang melakukannya adalah orang yang teguh memegang agama dan dengan tujuan yang sesuai syariat Islam serta tidak membahayakan orang lain.

Mengenai penonton The Master yang juga dihukumi haram, alasannya adalah orang yang menonton tayangan itu tergolong tafarruj bil ma’ashi atau merasa senang dengan adanya kemungkaran. Selain itu, bercampurnya lelaki dan perempuan bukan muhrim dalam acara tersebut juga merupakan sebuah kemaksiatan.

Pejabat Humas RCTI Hafni Damayanti, menanggapi pernyataan bahwa tayangan The Master haram mengatakan, “Jika para Kiai itu menduga ada unsur mistik atau pelibatan mahluk halus, dugaan tersebut tak tepat karena itu semua merupakan trik-trik para pemainnya.”

Oleh karena itu Hafni menjamin tidak ada kaitannya The Master dengan mantra ataupun mahluk halus. Untuk membuktikannya, silakan Pak Kiai menonton tayangan itu secara langsung sehingga akan mengetahui bagaimana para pemain melakukan trik-triknya.

Menurut Hafni, apa yang dilakukan para master seperti Limbad yang tak mengalami luka sedikit pun pada saat ditusuk ataupun tidak apa-apa ketika disengat listrik, semuanya murni karena trik.

terkait

Read more...

Saturday, June 6, 2009

Gratis Netbook untuk Mahasiswa Baru

ilegon - Bagi kampus, iming-iming netbook gratis mungkin bisa memikat calon mahasiswa untuk kuliah di tempatnya. Sementara bagi produsen netbook, kesempatan jualan ini tentu sayang jika tak sekalian dimanfaatkan untuk cari nama.

Nah, berangkat dari kepentingan masing-masing pihak itu akhirnya terjadilah kata sepakat untuk mengikat kerjasama. Demikian yang dilakukan produsen netbook Advan bersama STMIK Cilegon.

Keduanya menggelar program yang dinamakan Advan Goes to Campus. "Program ini menawarkan Vanbook gratis kepada mahasiswa baru STMIK Cilegon," ujar Marketing Director Advan, Teddy Tjan usai seremoni kerjasama, di Cilegon, Sabtu (6/6/2009).

Teddy tak mau mengungkap nilai bisnis dari kerjasama ini. Sebab menurutnya, program ini lebih ditujukan sebagai komitmen dan bakti Advan untuk memajukan dunia pendidikan di Indonesia.

"Kami juga memberikan pelatihan kepada Dosen tentang perkembangan dan informasi terbaru seputar dunia IT dan komputer. Advan berfungsi sebagai jembatan antara dunia pendidikan dan dunia kerja," lanjut dia.

Kepala pendukung Akademik & ICT STMIK Cilegon, Sutrisno, menyambut baik kerjasama ini. Karena menurutnya, dengan tersedianya netbook milik Advan akan bantu menunjang kegiatan belajar dan mengajar di kampus yang kini berbasis e-learning.

"Mahasiswa kami kini dapat dengan mudah mengakses seluruh informasi kampus via website, mencari bahan kuliah via internet dan dapat selalu berinteraksi dengan dosen di luar jam kuliah," tandasnya.
terkait Read more...

Cawapres Boediono pidato, Celananya Robek ^^

Entah disengaja atau tidak. Yang jelas tidak banyak yang tahu, jika celana yang dikenakan Boediono robek pada bagian belakangnya. Tiga lobang kecil lazimnya kain yang sudah usang itu terlihat saat Boediono berdiri memberikan sambutan di SD Muhammadiyah 01, Senin 1 Juni 2009.

Kain koyak itu sepintas memang tidak terlihat. Namun kalau kita mengamatinya lebih intensif, lobang-lobang yang ?~tidak pantas’ itu terlihat jelas.

Tentunya kurang pas mengingat Boediono seorang Cawapres dan mantan Gubernur BI yang berpenghasilan ratusan juta. Reaksi kaget langsung dilontarkan kerabat sepupu Boediono, Bambang Subeno yang hadir disana.

“Tidak mungkinlah. Masak bolong,” jawab Bambang Subeno.

Namun setelah diam-diam mengamati dari belakang dengan seksama, Bambang Subeno akhirnya menganggukkan kepala, tanda membenarkan.

Bambang mengatakan, Boediono sedari dulu memang tidak memiliki kebiasaan ketat soal berpakaian. Akibatnya, seringkali pakaian atau celana yang sebenarnya kurang layak, masih dikenakannya.

“Pak Boed (Boediono) memang seperti itu. Pokoknya nyaman langsung dikenakan. Nanti saya akan memberitahukan kepada beliau kalau celana yang dikenakannya berlobang,” tuturnya.

Dari SD Muhammadiyah 01, rombongan langsung meluncur ke Jalan Dr Wahidin Kelurahan Kepanjen Lor Kecamatan Kecamatan Kepanjen Kidul Kota Blitar. Boediono menyambangi rumah tempat dirinya dilahirkan dan dibesarkan.

Bangunan itu telah disewa orang lain dan digunakan menjadi salon kecantikan. “Ini dulu tempat tinggal saya,” tuturnya kepada wartawan.

Di atas trotoar jalan, sudah berkumpul beberapa orang kerabat, teman dan tetangga yang menunggunya. Boediono dengan akrab menyalami satu persatu sanak kerabat dan tetangganya. Boediono bercerita jika dirinya dulu suka nongkrong di teras rumah, berupa trotoar jalan.

“Biasanya saya main gitar sambil menggoda cewek yang lewat. Masa muda memang indah,” paparnya disambut gelak tawa.

Boediono mengatakan tidak berkeinginan membangun kembali rumah peninggalan keluarganya. Menurut dia, biarlah semua warisan itu diurus saudara-saudaranya.

“Dulu bangunannya tidak seperti ini. Tapi soal ini, biarlah keluarga yang mengurusnya,” terangnya.

Setelah kembali ke hotel untuk beristirahat, rombongan Boediono juga berkunjung ke SMAN 01 Kota Blitar. Boediono yang nampak mengganti celananya, juga berziarah ke makam kedua orang tuanya di Tempat Pemakaman Umum Kelurahan Sentul Kecamatan Kepanjen Kidul.(Okezone.com) Read more...

Thursday, June 4, 2009

Google Wave Saingi Facebook


Google Wave

Tampaknya google tergiur dengan kemashuran facebook, ya siapa yang tak kenal facebook, situs jejaring sosial hasil karya Mark Zuckerberg, pemuda asal negeri Paman Sam ini memang sangat fenomenal, sampai-sampai perusahaan sekelas google pun berencana mengembangkan aplikasi serupa untuk menandinginya.

Aplikasi yang tengah dipersiapkan google untuk menandingi facebook ini diberi nama “Google Wave”. Dasar pengembangannya adalah sistem email yang dibekali dengan kemampuan untuk berbagi text, foto, video, map, gadget serta social networking layaknya facebook.

Langkah pertama yang harus dilakukan pengguna adalah dengan membuat sebuah account wave lalu kemudian menambahkan daftar teman kedalamnya. Setelah itu pengguna nantinya dapat melakukan interaksi langsung dengan orang yang ada dalam list rekannya.

Kelebihan lain yang ditawarkan oleh aplikasi baru ini adalah sifatnya yang open source sehingga pengguna bebas melakukan modifikasi sesuai dengan keinginan mereka. Lars Rasmussen, pemimpin proyek ini dalam sebuah blog mengatakan “setiap orang dalam ‘wave-mu’ dapat menggunakan kombinasi foto, video, dan bahkan sumber dari web lain. Kamu dapat melihat apa yang diketik temanmu ke dalam ‘wave-mu’ langsung melalui layar yang tersedia”. Hingga saat ini aplikasi baru ini baru tersedia untuk para pengembang, belum diketahui kapan akan dirilis untuk publik.

terkait

Read more...

Wednesday, June 3, 2009

Isi Email ibu Prita Mulyasari yang Mengancam dirinya 6 tahun pidana

Kasus Ibu Prita Mulyasari, yang terpaksa mendekam di dalam tahanan hanya karena “email curhat”nya beredar luas di internet sungguh sangat menyedihkan.

RS OMNI DAPATKAN PASIEN DARI HASIL LAB FIKTIF

Prita Mulyasari - suaraPembaca

Jangan sampai kejadian saya ini menimpa ke nyawa manusia lainnya. Terutama anak-anak, lansia, dan bayi. Bila anda berobat berhati-hatilah dengan kemewahan rumah sakit (RS) dan title international karena semakin mewah RS dan semakin pintar dokter maka semakin sering uji coba pasien, penjualan obat, dan suntikan.

Saya tidak mengatakan semua RS international seperti ini tapi saya mengalami kejadian ini di RS Omni International. Tepatnya tanggal 7 Agustus 2008 jam 20.30 WIB. Saya dengan kondisi panas tinggi dan pusing kepala datang ke RS OMNI Internasional dengan percaya bahwa RS tersebut berstandar International, yang tentunya pasti mempunyai ahli kedokteran dan manajemen yang bagus.

Saya diminta ke UGD dan mulai diperiksa suhu badan saya dan hasilnya 39 derajat. Setelah itu dilakukan pemeriksaan darah dan hasilnya adalah trombosit saya 27.000 dengan kondisi normalnya adalah 200.000. Saya diinformasikan dan ditangani oleh dr I (umum) dan dinyatakan saya wajib rawat inap. dr I melakukan pemeriksaan lab ulang dengan sample darah saya yang sama dan hasilnya dinyatakan masih sama yaitu thrombosit 27.000.

dr I menanyakan dokter specialist mana yang akan saya gunakan. Tapi, saya meminta referensi darinya karena saya sama sekali buta dengan RS ini. Lalu referensi dr I adalah dr H. dr H memeriksa kondisi saya dan saya menanyakan saya sakit apa dan dijelaskan bahwa ini sudah positif demam berdarah.

Mulai malam itu saya diinfus dan diberi suntikan tanpa penjelasan atau izin pasien atau keluarga pasien suntikan tersebut untuk apa. Keesokan pagi, dr H visit saya dan menginformasikan bahwa ada revisi hasil lab semalam. Bukan 27.000 tapi 181.000 (hasil lab bisa dilakukan revisi?). Saya kaget tapi dr H terus memberikan instruksi ke suster perawat supaya diberikan berbagai macam suntikan yang saya tidak tahu dan tanpa izin pasien atau keluarga pasien.

Saya tanya kembali jadi saya sakit apa sebenarnya dan tetap masih sama dengan jawaban semalam bahwa saya kena demam berdarah. Saya sangat khawatir karena di rumah saya memiliki 2 anak yang masih batita. Jadi saya lebih memilih berpikir positif tentang RS dan dokter ini supaya saya cepat sembuh dan saya percaya saya ditangani oleh dokter profesional standard Internatonal.

Mulai Jumat terebut saya diberikan berbagai macam suntikan yang setiap suntik tidak ada keterangan apa pun dari suster perawat, dan setiap saya meminta keterangan tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Lebih terkesan suster hanya menjalankan perintah dokter dan pasien harus menerimanya. Satu boks lemari pasien penuh dengan infus dan suntikan disertai banyak ampul.

Tangan kiri saya mulai membengkak. Saya minta dihentikan infus dan suntikan dan minta ketemu dengan dr H. Namun, dokter tidak datang sampai saya dipindahkan ke ruangan. Lama kelamaan suhu badan saya makin naik kembali ke 39 derajat dan datang dokter pengganti yang saya juga tidak tahu dokter apa. Setelah dicek dokter tersebut hanya mengatakan akan menunggu dr H saja.

Esoknya dr H datang sore hari dengan hanya menjelaskan ke suster untuk memberikan obat berupa suntikan lagi. Saya tanyakan ke dokter tersebut saya sakit apa sebenarnya dan dijelaskan saya kena virus udara. Saya tanyakan berarti bukan kena demam berdarah. Tapi, dr H tetap menjelaskan bahwa demam berdarah tetap virus udara. Saya dipasangkan kembali infus sebelah kanan dan kembali diberikan suntikan yang sakit sekali.

Malamnya saya diberikan suntikan 2 ampul sekaligus dan saya terserang sesak napas selama 15 menit dan diberikan oxygen. Dokter jaga datang namun hanya berkata menunggu dr H saja.

Jadi malam itu saya masih dalam kondisi infus. Padahal tangan kanan saya pun mengalami pembengkakan seperti tangan kiri saya. Saya minta dengan paksa untuk diberhentikan infusnya dan menolak dilakukan suntikan dan obat-obatan.

Esoknya saya dan keluarga menuntut dr H untuk ketemu dengan kami. Namun, janji selalu diulur-ulur dan baru datang malam hari. Suami dan kakak-kakak saya menuntut penjelasan dr H mengenai sakit saya, suntikan, hasil lab awal yang 27.000 menjadi revisi 181.000 dan serangan sesak napas yang dalam riwayat hidup saya belum pernah terjadi. Kondisi saya makin parah dengan membengkaknya leher kiri dan mata kiri.

dr H tidak memberikan penjelasan dengan memuaskan. Dokter tersebut malah mulai memberikan instruksi ke suster untuk diberikan obat-obatan kembali dan menyuruh tidak digunakan infus kembali. Kami berdebat mengenai kondisi saya dan meminta dr H bertanggung jawab mengenai ini dari hasil lab yang pertama yang seharusnya saya bisa rawat jalan saja. dr H menyalahkan bagian lab dan tidak bisa memberikan keterangan yang memuaskan.

Keesokannya kondisi saya makin parah dengan leher kanan saya juga mulai membengkak dan panas kembali menjadi 39 derajat. Namun, saya tetap tidak mau dirawat di RS ini lagi dan mau pindah ke RS lain. Tapi, saya membutuhkan data medis yang lengkap dan lagi-lagi saya dipermainkan dengan diberikan data medis yang fiktif.

Dalam catatan medis diberikan keterangan bahwa bab (buang air besar) saya lancar padahal itu kesulitan saya semenjak dirawat di RS ini tapi tidak ada follow up-nya sama sekali. Lalu hasil lab yang diberikan adalah hasil thrombosit saya yang 181.000 bukan 27.000.

Saya ngotot untuk diberikan data medis hasil lab 27.000 namun sangat dikagetkan bahwa hasil lab 27.000 tersebut tidak dicetak dan yang tercetak adalah 181.000. Kepala lab saat itu adalah dr M dan setelah saya komplain dan marah-marah dokter tersebut mengatakan bahwa catatan hasil lab 27.000 tersebut ada di Manajemen Omni. Maka saya desak untuk bertemu langsung dengan Manajemen yang memegang hasil lab tersebut.

Saya mengajukan komplain tertulis ke Manajemen Omni dan diterima oleh Og(Customer Service Coordinator) dan saya minta tanda terima. Dalam tanda terima tersebut hanya ditulis saran bukan komplain. Saya benar-benar dipermainkan oleh Manajemen Omni dengan staff Og yang tidak ada service-nya sama sekali ke customer melainkan seperti mencemooh tindakan saya meminta tanda terima pengajuan komplain tertulis.

Dalam kondisi sakit saya dan suami saya ketemu dengan manajemen. Atas nama Og (Customer Service Coordinator) dan dr G (Customer Service Manager) dan diminta memberikan keterangan kembali mengenai kejadian yang terjadi dengan saya.

Saya benar-benar habis kesabaran dan saya hanya meminta surat pernyataan dari lab RS ini mengenai hasil lab awal saya adalah 27.000 bukan 181.000. Makanya saya diwajibkan masuk ke RS ini padahal dengan kondisi thrombosit 181.000 saya masih bisa rawat jalan.

Tanggapan dr G yang katanya adalah penanggung jawab masalah komplain saya ini tidak profesional sama sekali. Tidak menan

Berita Terkait

Read more...

PUSTAKA KITA

> MISRIADI BLOG
> OKEZONE
> GAME ONLINE FULLY
> DETIK
> BLOG TARGET
> VIVA NEWS
> DESIGN BLOG
> BIRU BLOG
> LOGO BLOG
> BLOG BASIS BAHASA
> HTML BLOG
> SENIOR BLOG PANUTAN
free counters



website design